News

Polisi Moral Iran dalam Sorotan Setelah Mahsa Amini Tewas

 Jumat, 23 September 2022, 04:21 WITA

bbn/Harpersbazaar.com/Polisi Moral Iran dalam Sorotan Setelah Mahsa Amini Tewas

IKUTI BERITABALI.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Pada 1981, para perempuan dewasa dan anak-anak diharuskan secara hukum untuk memakai busana "Islami" sederhana. Dalam praktiknya, busana itu adalah chador - jubah lebar yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah.

"Namun perlawanan terhadap kewajiban memakai hijab terus berlangsung pada level perseorangan. Kami menjadi kreatif dalam mengenakan kerudung atau tidak menutupi rambut kami sepenuhnya," kata Kar.



"Setiap mereka memberhentikan kami, kami melawan."

Pada 1983, parlemen Iran memutuskan bahwa perempuan yang tidak menutupi rambut mereka di tempat umum bisa dihukum cambuk sebanyak 74 kali. Baru-baru ini hukuman tersebut ditambah dengan kurungan penjara selama 60 hari.

Meski demikian, sejak saat itu aparat berwenang juga kewalahan menerapkan aturan wajib hijab karena perempuan dari berbagai usia kerap menemukan berbagai cara untuk menyiasati aturan dengan memakai busana ketat dan jilbab beraneka warna.

Pendekatan keras


Cara aturan tersebut ditegakkan dan tingkat hukuman yang diberikan amat bervariasi selama puluhan tahun, tergantung presiden yang berkuasa.

Saat mencalonkan diri sebagai presiden pada 2004, Mahmoud Ahmadinejad, yang terkenal ultra-konservatif, tampak berupaya lebih progresif soal aturan wajib berhijab.

"Tiap manusia punya selera berbeda dan kami harus melayani mereka semua," ujar Ahmadinejad dalam wawancara televisi.

Namun, sesaat setelah menjadi presiden tahun berikutnya, Ahmadinejad resmi membentuk Gasht-e Ershad. Sebelum dia berkuasa, penegakan aturan busana perempuan dilakukan secara informal oleh kesatuan aparat dan paramiliter yang berbeda.

Polisi moral kerap dikritik masyarakat karena menggunakan pendekatan keras. Banyak perempuan yang ditahan dan hanya dibebaskan setelah kerabatnya muncul untuk memberi jaminan bahwa mereka akan mematuhi aturan di masa mendatang.

"Saya ditahan bersama putri saya karena lipstik kami," kata seorang perempuan di Isfahan kepada BBC.

"Mereka membawa kami ke kantor polisi dan menyuruh suami saya datang dan menandatangani secarik kertas berisi perjanjian dia tidak akan membiarkan kami keluar tanpa memakai hijab."



Seorang perempuan lainnya dari Teheran, memaparkan kepada BBC bahwa seorang petugas perempuan menegurnya dan kemudian menahannya karena sepatu botnya "terlalu erotis".

"Saya menelepon suami saya dan memintanya untuk membawakan saya sepasang sepatu," ujar perempuan itu.

"Saya kemudian menandatangani secarik kertas berisi pengakuan saya mengenakan busana yang tidak pantas dan sekarang saya punya catatan kriminal."


Halaman :



Tonton Juga :



Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan pengiklan. Wartawan Beritabali.com Network tidak terlibat dalam aktivitas jurnalisme artikel ini.