Desa

Dulang Batok Khas Desa Petandakan Beromzet Puluhan Juta Rupiah Per Bulan

 Senin, 18 September 2023, 21:54 WITA

beritabali/ist/Dulang Batok Khas Desa Petandakan Beromzet Puluhan Juta Rupiah Per Bulan.

IKUTI BERITABALI.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Beritabali.com, Buleleng. 

Kabupaten Buleleng adalah salah satu wilayah utara Pulau Bali yang memiliki sektor industri kreatif yang terus berkembang pesat sampai saat ini. Banyak produk dari industri kreatif yang dihasilkan oleh tangan-tangan kreatif orang Buleleng yang bertalenta.

Terlebih karena mayoritas penduduk Pulau Dewata ini adalah penganut agama Hindu sehingga banyak bermunculan usaha-usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang memproduksi alat-alat kelengkapan untuk menggelar upacara atau sembahyang seperti dulang dan peralatan sembahyang lainnya.

Berbicara lebih jauh tentang dulang dan kerajinan tangan lainnya, pria yang satu ini juga mempunyai segudang kreativitas yang dihasilkan oleh tangan terampilnya. Beliau adalah Gede Merta Sariada dari Desa Petandakan Kabupaten Buleleng.

Ditemui di kediamannya, Kamis (14/9), Gede Merta menuturkan bahwa usaha yang dirintisnya mulai tahun 1997 ini berawal dari usaha turunan dari mendiang kakeknya terdahulu. Dulunya, usahanya hanya membuat mebel berbahan kayu kelapa yang dibantu oleh 3 karyawannya yang beralamat di "Nyiur Indah" Jalan Pulau Menjangan, Banjar Pondok Desa Petandakan Kabupaten Buleleng.

Usahanya pun sering mengalami pasang surut. Puncaknya pada tahun 2002 silam seluruh Bali sedang berduka akibat ledakan bom dari teroris yang meluluh lantakkan pariwisata Bali bahkan Indonesia yang mengakibatkan usahanya sempat vakum. Seiring berjalannya waktu dan perekonomian Bali mulai tumbuh, usaha Gede Merta pun mulai ikut merangkak naik. 

"Titik awal kejayaan usaha saya dimulai dari tahun 2007. Terbesit di pikiran saya untuk membuat dulang dan bokor mengingat di Bali produk tersebut sering digunakan dalam upacara keagamaan. Saya mulai mencoba berinovasi membuat dulang dan bokor dengan ciri khas tersendiri dengan berbahan dasar pohon mangga dan bermotif batok kelapa secara ototidak," tuturnya.

Di luar prediksi, usahanya itu terbilang sangat sukses hingga kini. Orderan dan pesananpun banyak berdatangan dari berbagai daerah di Bali. Dimana waktu itu, usaha dulang batok ini meraup omzet hingga 35 juta perbulan dengan rata-rata memproduksi produk 300 biji perbulannya.

Namun tidak bertahan lama, nasib malang kembali menimpa Gede Merta. Berselang beberapa tahun usahanya kembali tertimpa masalah global yaitu pandemi Covid-19. Fisik dan pikirannya pun kembali diuji, satu per satu karyawannya terpaksa diberhentikan hingga omzetnya menurun drastis menyentuh 20 - 25 juta per bulannya.


Halaman :


Berita Beritabali.com di WhatsApp Anda
Ikuti kami




Tonton Juga :





Hasil Polling Calon Bupati Buleleng 2024

Polling Dimulai per 1 September 2022


Trending