Seksologi

Sering Bikin Sakit Pinggang, Masturbasi Merusak Ginjal?

 Minggu, 16 Juni 2024, 12:52 WITA

beritabali.com/cnnindonesia.com/Sering Bikin Sakit Pinggang, Masturbasi Merusak Ginjal?

IKUTI BERITABALI.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Beritabali.com, Nasional. 

Beberapa pria mengeluhkan sakit pinggang setelah masturbasi. Sakit pinggang itu kerap diasosiasikan dengan gejala penyakit ginjal.

Pertanyaannya, benarkah masturbasi bisa merusak ginjal?

Kabar soal dampak buruk masturbasi terhadap ginjal berasal dari konsep pengobatan tradisional China. Mereka percaya bahwa pria dengan fungsi ginjal yang buruk (shen kui) memiliki kinerja seksual yang rendah hingga membuat intensitas masturbasi meningkat.

Dalam konsep ini, ginjal dianggap sebagai tempat penyimpanan air mani. Seringnya masturbasi dianggap memicu ketidakseimbangan dalam tubuh yang menyebabkan penyakit.

Benarkah masturbasi bisa merusak ginjal?

Dari konsep di atas, banyak orang bertanya-tanya soal benarkah masturbasi bisa merusak ginjal.

Melansir Healthline, hingga saat ini, tak ditemukan adanya bukti dampak negatif masturbasi terhadap ginjal. Tak ada juga bukti yang memperlihatkan masturbasi dapat memicu gagal ginjal.

Beberapa orang salah kaprah mempercayai hilangnya protein dan nutrisi melalui keluarnya air mani dapat menyebabkan kerusakan ginjal.

Memang betul, ada sedikit nutrisi dalam air mani yang ikut keluar saat ejakulasi. Namun, sedikit nutrisi itu tak akan berdampak signifikan terhadap kesehatan.

Studi pada tahun 2013 menemukan, rata-rata terdapat 5,04 gram protein dalam 100 mililiter air mani. Angka ini setara dengan 0,25 gram dalam satu kali ejakulasi.

Alih-alih merusak, beberapa studi ilmiah justru menemukan bahwa masturbasi dapat membantu mengatasi batu ginjal.

Dalam studi tahun 2020, para peneliti menganalisis efek masturbasi 3-4 kali seminggu terhadap penurunan ukuran batu ginjal berukuran 5-10 milimeter.

Peneliti menemukan, masturbasi yang dikombinasikan dengan terapi medis standar sama efektifnya dengan konsumsi obat tamsulosin yang biasa digunakan untuk pengobatan batu ginjal.

Meski memberikan hasil menarik, namun dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memahami hubungan antara keduanya secara menyeluruh.


Halaman :


Berita Beritabali.com di WhatsApp Anda
Ikuti kami




Tonton Juga :





Trending