News

Hati-hati 52% Konten Kesehatan Mental di TikTok Menyesatkan

 Selasa, 28 Juni 2022, 09:20 WITA

bbn/orami.co.id/Hati-hati 52% Konten Kesehatan Mental di TikTok Menyesatkan

IKUTI BERITABALI.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Beritabali.com, Dunia. 

Tiktok menjadi salah satu aplikasi yang memiliki banyak pilihan konten termasuk yang membahas kesehatan mental. Namun ternyata sebanyak 52% konten kesehatan mental di Tiktok Menyesatkan.

Contohnya pada kasus ADHD. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan mental yang membuat orang yang mengalami kesulitan untuk fokus. Namun di TikTok, ada banyak konten yang menyesatkan soal isu ini.



Hal ini dijelaskan oleh Dr Jonathan N Stea seorang psikolog klinis melalui cuitannya di Twitter. Ia pun membawa bukti berupa jurnal yang sudah dipublikasi.

"Informasi kesehatan mental yang salah merajalela di media sosial. Dalam penelitian ini, lebih dari setengah video ADHD populer di TikTok menyesatkan-dan yang mengejutkan, ada lebih dari 2,8 juta penayangan per video dan setiap video dibagikan rata-rata 31.000 kali," tulisnya.

Berdasar penelitian yang dipublikasikan di SAGE Journals (BISA KLIK DI SINI), dari 100 video yang memenuhi kriteria penilaian, 52% dikategorikan menyesatkan, 27% dianggap sebagai pengalaman personal dan hanya 21% yang dirasa membantu atau berguna.

"Sekitar setengah dari video TikTok yang dianalisis tentang ADHD menyesatkan. Dokter harus menyadari penyebaran luas dari misinformasi kesehatan di platform media sosial dan dampak potensialnya pada perawatan klinis," bunyi kesimpulan penelitian mereka seperti dilihat detikINET, Minggu (26/6/2022).



ADHD adalah gangguan mental yang membuat pengidapnya kesulitan untuk memusatkan perhatiannya, biasanya pengidapnya juga cenderung hiperaktif. Mereka juga kerap mengalami kesulitan dalam belajar membaca dan menulis.

ADHD biasanya dikenal di usia kanak-kanak, namun tidak menutup kemungkinan ADHD terbawa hingga dewasa. Meski tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, ada penanganan yang bisa diterapkan untuk meredakan gejala pasien sehingga memiliki kualitas hidup yang lebih baik. (Sumber: Detik.com)

Penulis : bbn/net