Wisata

Kisah Mistis Desa Besari

Desa Besari Hilang Usai Aksi Militer Raja Karangasem ke Lombok

 Jumat, 27 Mei 2022, 22:45 WITA

beritabali/ist/Desa Besari Hilang Usai Aksi Militer Raja Karangasem ke Lombok.

IKUTI BERITABALI.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Namun Datu (Raja) Besari menolak tawaran tersebut, karena berpikir tidak menguntungkan bagi Kedatuan Besari. Raja Karangasem mengutus sebagian besar prajurit untuk menginvasi Besari.

"Kemudian Datu Besari mengirim 100 hingga 200 prajurit untuk ke daerah pintu masuk kedatuan untuk bernegosiasi dengan Karangasem agar tidak terjadi pertumpahan darah,” kata Amiq Kholid.

Tawaran perdamaian ditolak oleh Karangasem. Akhirnya, Datu Besari memerintahkan seluruh penduduk agar berkumpul membawa ternak mereka ke Kedaton.

“Saat semua kumpul, datu mengambil batok kelapa diisi air dan didoakan. Kemudian air tersebut digunakan untuk menyirami seluruh Kedatuan tersebut. Dengan kehendak Allah SWT, Kedatuan Besari hilang dan berubah menjadi hutan,” ujarnya.

Sejak saat itu Desa Besari menghilang. Para prajurit yang sebelumnya berada di luar bersedih karena mereka ditinggalkan. Namun suara misterius dari bekas Kedatuan Besari muncul menasehati prajurit.

"Suara itu muncul, mengatakan jika semua orang ikut hilang, siapa yang akan menceritakan kisah ini ke generasi berikutnya,” kata Amiq Kholid.

Dari kejadian tersebut, hingga saat ini secara turun temurun kisah hilangnya Desa Besari menjadi cerita masyarakat setempat.

Amiq Kholid juga mendirikan sebuah museum yang diberi nama Museum Desa Genggelang. Di sana, beberapa benda peninggalan Kedatuan Besari dapat dijumpai.

Benda-benda tersebut berupa rompi Raja Besari hingga lampu minyak. Di sana juga ada lontar yang mengisahkan kedatuan pertama di Lombok dan peta batas wilayah kedatuan.

Ada juga tempat tinta yang digunakan Carik (sekretaris negara), alat khitan zaman dulu, gelang, aneka piring dan lainnya.

“Ada juga papan Warige untuk ilmu astronomi atau perbintangan zaman dulu,” ujarnya.

Meskipun Desa Besari telah hilang, namun desa tersebut sering muncul dan menunjukkan wujud kepada orang luar desa yang berada di sana.

Saat gempa Lombok 2018, Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Jawa Barat membentuk posko di pintu masuk Air Terjun Kerta Gangga yang berada sangat dekat di lokasi Desa Besari. Relawan gempa melayani pengobatan untuk masyarakat.

"Anehnya, banyak warga datang berobat jam 2 dini hari sampai subuh,” ujar Amiq Kholid.

Pasien-pasien yang berobat di sana justru sangat asing dan bukan berasal dari Desa Ganggelang. Keesokan harinya saat dokter melihat catatan nama pasien, nama pada catatan tersebut justru menghilang sendiri. 

Tim dokter dan tentara yang bertugas di posko relawan sangat heran atas kejadian tersebut.

Beberapa hari berselang, posko relawan tersebut mendapat telepon dari Jakarta karena ada komplain tidak melayani penduduk Desa Genggelang untuk berobat. Itu membuat tentara yang bertugas mendatangi Kepala Desa Genggelang.

“Dua tentara yang bertugas di posko bertanya, kok ada komplain mereka tidak melayani masyarakat. Padahal setiap dini hari banyak masyarakat berobat,” ujarnya.


Halaman :