Penguasaan PostGreSQL di Indonesia Terkendala SDM yang Belum Memadai

Senin, 09 September 2019 | 14:00 WITA

Penguasaan PostGreSQL di Indonesia Terkendala SDM yang Belum Memadai

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Ketua panitia Penyelenggara PostGreeSQL Conference Asia (PGConf.Asia) 2019, menyatakan penguasaan Indonesia akan teknologi Open Source seperti PostGree terkendala SDM yang terbatas dan infrastruktur database yang belum memadai.
 

Padahal, menurutnya potensi pengusaan teknologi ini amat penting dalam meningkatkan kemandirian bangsa dalam hal teknologi. Terlebih, kata dia Indonesia ditargetkan akan unggul di bidang ekonomi digital oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2020 mendatang.
 
Hal ini diungkapkannya saat jumpa pers dengan media usai pembukaan konferensi PGconf.2019 di Sanur, Denpasar, Senin (9/9/2019) dengan tema 'When Professionals Meet Hackers' selama 8-11 September 2019. Dikatakan salah satu tantangan Indonesia menyambut Revolusi Industri 4.0 adalah kesiapan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi yang dirasa belum memadai baik secara kuantitas maupun kualitas untuk mencapai potensi ekonomi digital sebesar US$150 miliar pada 2025. 
 
Berdasarkan data keluaran Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) nasional 2017 masih rendah yakni di level 4,99 dari skala 1-10.  Sedangkan di tingkat global, Indonesia berada di urutan ke-45 dari 140 negara atau ke-4 di wilayah Asia Tenggara di dalam daftar The Global Competitiveness Report 2018 keluaran World Economic Forum.  
 
Di sisi wirausaha, Indonesia disebutkan baru memiliki pengusaha sebanyak 1,65% dari populasi jumlah penduduk dan diperkirakan hanya sekitar 0,43% di antaranya berbasis teknologi atau technopreneur.  Menurut ICT Development Index 2017 , Indonesia berada di peringkat 111 dari 176 negara. 
 
Sementara menurut perusahaan riset A.T. Kearney, sektor pendidikan di Indonesia hanya mampu menghasilkan 278 insinyur TI dari setiap 1 juta penduduk. Angka lulusan tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia yang mencetak 1834 insinyur TI dan India yang mencetak 1159 insinyur TI dari setiap 1 juta penduduk. Riset tersebut menyebutkan bahwa Indonesia membutuhkan 5 kali lebih banyak insinyur TI dalam 10 – 15 tahun ke depan untuk mendukung perkembangan ekonomi digital. 
 
“Diperlukan pendidikan dan pelatihan yang tepat untuk mencetak sumber daya manusia yang berdaya saing di Revolusi Industri 4.0. Pemaparan beragam materi di dalam konferensi PGConf.ASIA 2019 akan memberikan peningkatan wawasan dan keahlian profesional bagi para peserta,” kata Julyanto Sutandang. 
 
“Konferensi ini digelar sebagai bagian dari bentuk tanggungjawab kami dalam membangun solusi dan ekosistem berkelas enterprise di pasar tanah air berbasiskan software Open Source,” lanjutnya. 
 
Selain itu, seperti kebanyakan teknologi yang baru hadir, PostgreSQL tidak serta merta diadopsi secara luas dan membutuhkan waktu agar bisa diterima di tengah masyarakat bisnis negara berkembang. “Perlu dibangun sebuah ekosistem bisnis yang lebih baik bagi PostgreSQL agar bisa digunakan pada pasar lebih luas dan besar,” kata Julyanto Sutandang. 
 
Menurutnya, ketidaksiapan komponen bisnis membuat laju pengadopsian PostgreSQL tidak secepat harapan. Seiring bertumbuhnya software Open Source di sektor bisnis, maka meningkat pula kebutuhan akan para ahli PostgreSQL. 
 
Perhelatan PGConf.ASIA 2019 di Indonesia, selain untuk melakukan interaksi antara hacker dan bisnis enterprise, diharapkan ekosistem PostgreSQL dan Open Source dapat bertumbuh di Indonesia. Dan yang tidak kalah penting adalah PGConf.ASIA 2019 dapat menguntungkan bisnis enterprise sebagai pasar dan akademisi yang menghasilkan sumber daya TI terbaik di tanah air. 
 
Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara mengatakan pengembangan open source harus senantiasa didorong dan dipromosikan bersama baik itu oleh pemerintah, korporasi, NGO atau organisasi manapun yang ingin mengembangkan sistem database berdasarkan PostgreSQL. 
 
Rudiantara menambahkan bahwa open source membebaskan ketergantungan terhadap merek dan software berbayar (proprietary) sehingga menawarkan kemandirian dan biaya lebih murah. Rudiantara atau yang biasa disebut Chief RA menyatakan bahwa pemerintah selalu memperhatikan pengembangan PostgreSQL. 
 

“Pada tahun ’80-an, kita mengenal yang namanya SQL (Structured Query Language), saya juga menjadi bagian daripada itu di tahun ’80-an akhir. Saya pernah bekerja untuk Oracle yang mengembangkan SQL, kemudian berkembang-berkembang terus, (kemudian muncul) Ingres, pada akhirnya PostgreSQL yang kita kenal saat ini,” kata Chief RA saat membuka konferensi dalam rekaman video. 
 
PostgreSQL merupakan raja database Open Source yang dapat digunakan sebagai alternatif utama dalam dunia bisnis. Telah banyak perusahaan kelas menengah hingga atas yang menggunakan Open Source Database Management System (OSDBMS) PostgreSQL sebagai bagian dari sistem misi kritikal. Perusahaan perbankan, telekomunikasi, ritel modern, dan instansi pemerintah telah menggunakan sistem database PosgtreSQL.
 
PostgreSQL adalah DBMS dengan fitur paling lengkap di dunia dan dinobatkan sebagai DBMS of the Year 2018 oleh DB-Engine selama dua tahun berturut-turut.  Di sisi popularitas, DB-Engines melaporkan bahwa database open source mengalami peningkatan popularitas setiap tahunnya sejak 2013  dan telah menggerus pangsa pasar database komersial. Meskipun database komersial masih memimpin pasar, tapi database open source menunjukkan tren penguatan untuk menjadi mayoritas dalam tempo 12 hingga 18 bulan mendatang. (bbn/rob)


Senin, 09 September 2019 | 14:00 WITA


TAGS: Konferensi PostGreSQL Asia SDM Indonesia



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: