Seksologi dr Oka Negara, FIAS

Suami Bergairah dengan Rambut Kelamin yang "Lebat"

Minggu, 19 Mei 2019 | 12:21 WITA

Suami Bergairah dengan Rambut Kelamin yang "Lebat"

beritabali.com/ilustrasi/net

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. “Dok, maaf nih saya bertanya begini, saya baru menikah tiga bulan dan sedang menikmati berhubungan seksual dengan suami. Tetapi ada yang mulai kami perdebatkan, tentang rambut kelamin saya. Suami saya minta saya membiarkan rambut kelamin saya tumbuh lebat, dilarang dicukur. Katanya dia lebih bergairah kalau rambut kelamin saya banyak, lebih seksi katanya. Menurut dokter, itu bagaimana? Saat ini sih saya cukup potong rapi saja, biar tidak terlalu lebat. Satu lagi dok, mana lebih baik, dicukur atau dicabut dengan catut? Terima kasih” (Rini, 24).
 
Jawab: Apa yang dilakukan sebenarnya sudah cukup tepat, karena walaupun ternyata rambut kelamin atau rambut "pubis" bisa menjadi daya tarik seksual juga bagi sebagian laki-laki, tetapi sudah seharusnya memang rambut pubis jangan dibiarkan tidak teratur dan terlalu lebat, karena jika terlalu lebat akan juga membuat area vagina dan sekitarnya menjadi lebih lembab sehingga mempermudah tumbuhnya jamur. 
 
Keringat dan rambut pubis dapat menyatu sehingga menimbulkan bau tak sedap, seperti halnya bau menyengat pada ketiak. Jadi memang harus dibersihkan sesering mungkin untuk mencegah akumulasi keringat, terutama karena bagian tersebut hampir selalu tertutup oleh pakaian. Area antara vagina dan anus pun harus selalu bersih dan bebas dari bau berlebih.
 
Tentang mencabut rambut pubis,sebenarnya tidak akan menimbulkan akibat buruk apapun, selama dilakukan dengan hati-hati dan tidak menggunakan alat bantu yang kotor, misalnya menggunakan pinset yang kotor tentu saja bisa mengakibatkan iritasi atau bahkan infeksi. Demikian juga bila ingin mencabut keseluruhan rambut dengan menggunakan pencabutan menggunakan perekat khusus dengan cara “waxing”, selama alat dan bahan yang digunakan tidaklah kotor, akan sedikit akibat buruknya. 
 
Tetapi tentu saja proses pencabutan seperti ini akan menimbulkan rasa sakit. Yang kemudian perlu diingat adalah, jika seluruh atau sebagian besar rambut pubis dihilangkan sampai bersih, atau terlihat gundul, walau memang akan lebih mudah dibersihkan tetapi ada kemungkinan resiko lebih mudah mengalami perlecetan saat mengalami gesekan, baik itu saat berhubungan seksual atau gesekan dengan pakaian dalam. Dalam keadaan ini, rambut kelamin sesungguhnya bermanfaat untuk mencegah gesekan tersebut sekaligus menjaga kelembaban area sekitar vagina.
 
Akan lebih baik pilihan bisa dilakukan dengan menggunting atau mencukur rapi saja rambut pubis, dengan menyisakan sebagian rambut, jadi tidak dihabiskan semua. Dengan dicukur atau digunting rapi, tentu saja tidak akan terasa sakit, lebih praktis dan rambut pubis bisa menjalankan fungsinya untuk melindungi gesekan termasuk menjaga kelembaban seputar vagina. Dengan dipotong pendek dan rapi sekaligus juga bisa mencegah kejadian rambut pubis yang panjang yang bisa tertarik masuk saat berhubungan seksual, yang bisa memunculkan rasa nyeri juga saat itu.
 
Satu lagi, jangan lupa buat selalu menjaga kebersihan pakaian dalam. Seringlah mengganti pakaian dalam, minimal sehari dua kali setelah mandi, untuk menghindari jamur dan bakteri yang berasal dari pakaian dalam melekat juga pada rambut pubis atau langsung pada vagina jika rambut pubis dihabiskan. Sesungguhnya, upaya-upaya ini semua masuk ke dalam konsep merawat dan membersihkan kelamin yang perlu dilakukan dalam kaitan dengan hubungan seksual dan kebersihan organ seksual. [bbn/dr. oka negara/psk]


Minggu, 19 Mei 2019 | 12:21 WITA


TAGS: seksologi okanegara bali



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: