Pura Negara Gambur Anglayang, Pura Dengan Pelinggih Melayu Hingga Islam

Selasa, 14 Mei 2019 | 06:29 WITA

Pura Negara Gambur Anglayang, Pura Dengan Pelinggih Melayu Hingga Islam

beritabali.com/suarta

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Buleleng. Pura Negara Gambur   Anglayang adalah   salah   satu   pura yang mencerminkan keberagaman di Bali Utara. Pura yang  memperlihatkan  ciri  mutikultural tersebut memiliki  delapan pelinggih yang  mencerminkan  unsur  keberagaman.  Masing-masing pelinggih mewakili unsurnya masing-masing, seperti Sunda, Melayu, Budha, Hindu, dan Islam.

Demikian teruangkap dalam sebuah artikel berjudul “Identifikasi lansekap Pura Negara Gambur Anglayang di Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng” yang  dipublikasikan dalam Jurnal Arsitektur Lansekap, Volume 4, Nomor 2 Tahun 2018. Artikel tersebut ditulis oleh I Gede Bagus Reza Widiarsa Samba, Cokorda Gede Alit Semarajaya dan I Nyoman Gede Astawa dari Universitas Udayana.

I Gede Bagus Reza Widiarsa Samba dan kawan-kawan menuliskan pura   yang   terdapat   di   Desa Pekraman Kubutambahan,  Kecamatan  Kubutambahan,  Kabupaten  Buleleng tersebut memiliki pelinggih Ratu Bagus Sundawan sebagai  unsur  Sunda, pelinggih Ratu Bagus  Melayu sebagai  unsur  Melayu, pelinggih Ratu  Ayu Syahbandar sebagai unsur China/Budha, pelinggih Batara Surya, pelinggih Ratu Pasek, pelinggih Dewi Sri, pelinggih Ratu Gede Siwa sebagai unsur Hindu/Bali, dan pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah sebagai unsur  Islam. Uniknya kedelapan pelinggih ini berada dalam satu area tanpa adanya dinding pemisah antara pelinggih.

Pura Negara Gambur Anglayang awalnya merupakan  pusat  perdagangan  yang  dikelilingi  oleh  benteng  yang  disebut  Kuta  Banding  (Benteng  Perang), tempat  seluruh  pedagang  baik  dari  suku,  ras,  dan  agama  yang  berbeda-beda  dari  pulau-pulau  lainnya berkumpul  di  sana  melakukan  transaksi.  Tempat  itu  dipercaya  bisa  memberi  mereka  kehidupan, sehingga berbagai  manusia  berlainan  keyakinan  dan  kepercayaan  itu  membangun  sebuah  pura.  Pura  ini  merupakan  lambang agama dipercaya sebagai satu tujuan manusia, dari manapun ia berasal.

Pura Negara Gambur Anglayang memiliki arti  yaitu  pura  berarti  tempat  ibadah  atau  melakukan  persembahyangan,  Negara berarti  Negara, Gambur berarti  suara  genta/Bajra, Anglayang berarti  mengudara.  Jadi  artinya  pura  yang  mengeluarkan  suara  genta/bajra yang mengudara hingga terdengar ke seluruh Negara. Pura Negara Gambur Anglayang terletak di pinggir Pantai Kuta Banding, dengan jarak 100 m dari bibir pantai dan memiliki luas tapak 1.300 m².

Pura Negara Gambur Anglayang dikelola oleh Pengempon, Pengemong, dan Penyiwi. Pengempon adalah mereka  yang  memimpin  dan  memberi  tugas  untuk  melakukan  upacara  tetap  dan  pembinaan  pura. Pengemong/karma adalah masyarakat atau desa terdekat dengan pura yang merupakan tenaga pelaksana-pelaksana  upacara  dan  perawatan  pura  dikoordinir  oleh pengempon. Penyiwi adalah  masyarakat  luar  yang melakukan pemujaan di pura tersebut. Jumlah karma /anggota berjumlah 525 orang yang terdiri dari semua masyarakat desa Kubutambahan dan semuanya beragama Hindu. [bbn/ Jurnal Arsitektur Lansekap/mul]


Selasa, 14 Mei 2019 | 06:29 WITA


TAGS: Pura Negara Gambur Anglayang



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: