Perdagangan Budak, Tragedi Kemanusiaan Yang Pernah Membudaya di Bali

Rabu, 10 April 2019 | 06:35 WITA

Perdagangan Budak, Tragedi Kemanusiaan Yang Pernah Membudaya di Bali

ilustrasi/rec.or.id

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Perdagangan budak merupakan sebuah tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi dan membudaya di Bali. Sangat ironis dalam sejarah Bali bahwa perekonomian Bali sampai pada permulaan abad XIX masih sangat tergantung pada ekspor budak.


Demikian teruangkap dalam sebuah artikel berjudul “Dari Perahu Sri Komala Hingga Puputan; Perlawanan Terhadap Pemerintahan Hindia Belanda 1906yang dipublikasikan dalamJurnal Sejarah Citra Lekha, volume XVII, nomor 1 tahun 2013. Artikel tersebut ditulis oleh Inna Mirawati dari Arsip Nasional Republik Indonesia.

Inna Mirawati menuliskan jumlah budak yang dijual oleh para bangsawan Bali setiap tahun sebanyak 2.000 orang. Sebaliknya, mereka meng-impor koin-koin tembaga, senjata dan terutama candu yang dikonsumsi secara luas oleh masyarakat Bali.


Pada masa itu Badung merupakan salah satu pusat perdagangan budak sejak berkecamuknya perang di Bali tahun 1650. Nama Badung semakin terkenal ketika seorang pembesar Badung bernama Kiai Jambe Pulo ikut dalam memadamkan pemberontakan di Gelgel tahun 1686.

Badung sebenarnya sudah dikenal sejak tahun 1343 pada waktu Kerajaan Majapahit menduduki Bali. Kabupaten Badung dulunya bernama Nambangan sebelum diganti oleh I Gusti Ngurah Made Pemecutan pada akhir abad XVIII.

Pada tahun 1696 Badung yang semula menjadi bagian kerajaan Klungkung, kemudian menjadi kerajaan yang berdiri sendiri. Akan tetapi pada tahun 1700 Badung menjadi bagian kerajaan Mengwi yang muncul sebagai sebuah kerajaan akibat dari semakin lemahnya kerajaan Bali karena adanya pemberontakan. [bbn/ Citra Lekha/mul]


Rabu, 10 April 2019 | 06:35 WITA


TAGS: Perdagangan Budak Tradisi Membudaya



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: