Seksologi dr Oka Negara, FIAS

Seks Pada Saat Jam Kantor

Minggu, 14 Oktober 2018 | 11:58 WITA

Seks Pada Saat Jam Kantor

beritabali.com/ilustrasi

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Tanya: “Dok, beberapa waktu lalu saya mengikuti pelatihan kesehatan seksual yang dokter berikan di acara gathering perusahaan kami. Menarik sekali. Kenyataannya di kantor sepertinya memang banyak sekali isu seputar permasalahan seksual nih. Saya risih lihat teman-teman kantor cowok yang suka menonton video porno dan download gambar bugil di kantor. Itu tidak seberapa, kemarin seorang teman bilang sempat diajak untuk keluar kota sama atasan dan hampir diajak check in. Terus beberapa waktu lalu di kantin kantor beberapa teman juga ngobrol tentang susahnya merasakan yang namanya orgasme saat berhubungan seksual dengan suaminya, yang akhirnya membuat semangat kerjanya menurun. Bagaimana dok, seks yang sehat buat kita yang pekerja kantoran gini?” (Ria, 28th)
 
Jawab: Pekerja kantoran dan para eksekutif muda juga terpapar dengan problematika seksualitas yang beragam. Mulai dari masih banyaknya yang percaya dengan mitos seksual, misalnya mitos memperbesar penis, mitos merapatkan vagina, mitos keperawanan, mitos-mitos mencegah kehamilan, mitos praktek seksual lainnya yang banyak sekali. Selanjutnya juga maraknya pornografi yang malah sering kali diakses di jam kerja, baik itu di internet, juga bisa via gadget seperti hp, hingga yang lebih konvensional seperti dvd porno, majalah porno sampai ke pertunjukkan bermuatan seks yang bisa dikunjungi langsung bersama teman kantor, yang jika tidak dikelola dengan baik akan memunculkan perilaku seksual yang seringkali berisiko.
 
Beberapa hal yang bisa disebut sebagai seks yang tidak sehat, yang bisa dilakukan di jam kantor misalnya adalah hal-hal sebagai berikut: melakukan sexting (menyampaikan pesan seksual lewat gambar atau tulisan di hp atau internet selama jam kantor secara serius), mengakses secara pribadi atau beramai-ramai media pornografi saat jam kerja, melakukan pelecehan seksual dengan memanfaatkan relasi kuasa ke bawahan, hingga melakukan perilaku seksual berisiko di jam kerja (misalnya memanfaatkan situasi lowong untuk berhubungan seksual dengan sesama teman kantor). 
 
Itu semua berisiko tinggi, baik secara sosial, profesional hingga risiko medis, mulai dari ringan hingga berat. Akan lebih bagus memikirkan semuanya baik-baik termasuk memikirkan risikonya jika ingin melakukannya, karena sekali lagi bukan rahasia lagi sudah sering terjadi risiko pekerjaan, tuntutan perkara pidana, hingga risiko kehamilan tidak diinginkan dan infeksi menular seksual menjadi akibatnya.
 
Di samping problem infeksi menular seksual dan kehamilan tidak diinginkan yang bisa muncul dari faktor perilaku, ada juga kasus lain yang makin marak dikeluhkan oleh para eksekutif muda pekerja kantoran, yaitu problem fungsi seksual. Mengingat tuntutan pekerjaan yang tinggi, stres tinggi, kelelahan juga menyertai yang akhirnya bagi yang sudah menikah sering mengeluhkan adanya keluhan semisal gairah seksual menurun, disfungsi ereksi, ejakulasi dini hingga gangguan orgasme. Pola hidup tidak sehat, jarang istirahat, merokok, pola makan bekolesterol tinggi dari makanan cepat saji bisa memunculkan penyakit metabolisme di usia lebih dini seperti kencing manis yang pada akhirnya merusak pembuluh darah dan mengganggu fungsi hormon seksual. Yang dikombinasi dengan problem psikis seperti stres di pekerjaan atau stres di rumah, bahkan stres dengan pasangan, akan memicu problem fungsi seksual. 
 
Dorongan seksual akan menjadi menurun jika hormon testosteron juga menurun, disfungsi ereksi dan gangguan pelumasan vagina pada perempuan bisa terjadi karena pembuluh darah terganggu yang akhirnya memperburuk kualitas orgasme. Ejakulasi dini pada laki-laki juga bisa terjadi karena stres, cemas dan gangguan serotonin di otak. Semua bisa terjadi di usia kerja produktif. 
 
Dari semua paparan permasalahan di atas, sebenarnya untuk mencegah dan mendeteksi problem kesehatan seksualitas itu mudah, selama benar-benar mau memperhatikannya. Ada dua tips yang bisa dipasangkan buat bisa dipakai sebagai solusinya: Cermin dan Konsep ABCDE.
 
Cermin. Sangat sederhana. Ini bisa menjadi pekerjaan rumah sebelum berangkat ke kantor, sesudah tiba di rumah, atau saat istirahat di kantor. Manfaatkanlah cermin untuk memperhatikan juga organ kelamin kita. Terutama ini penting bagi perempuan, yang struktur anatomi kelaminnya berbeda dengan laki-laki. Mengamati organ kelamin laki-laki lebih mudah dibanding perempuan. Karenanya buat perempuan, pakailah juga cermin untuk melihat apakah ada tanda-tanda yang tidak normal dari vagina, bisa berupa keradangan, luka, lecet, tanda pertumbuhan jamur, infeksi, keputihan yang tidak normal dan lain sebagainya terlebih saat kelamin mengalami keluhan seperti gatal atau terasa nyeri saat buang air kecil. Jadi, cermin jangan hanya dimanfaatkan untuk memperhatikan wajah saja, tetapi bisa buat memperhatikan perubahan dan keluhan di organ kelamin, semakin dini bisa diketahui ada masalah, semakin mudah ditangani atau disembuhkan jika itu adalah penyakit.
 
Konsep ABCDE. Konsep ABCDE ini bisa dilakukan siapa saja, di berbagai tingkat usia dan semua pekerjaan. Untuk mencegah dini dari infeksi karena perilaku seksual juga bisa. Ketika sudah mencapai pubertas, dorongan seksual sangat wajar muncul, tetapi memang seharusnya bisa dikelola dengan baik, terlebih di usia produktif kerja dan dengan lingkungan interaksi pekerjaan yang sering kali banyak interaksi antara satu orang dengan orang lain sesama makhluk seksual, di lingkungan kerja juga salah satunya, yang sudah sering terdengar ada persinggungan seksual, perselingkuhan hingga berbagai perilaku seksual yang berisiko infeksi menular seksual. 
 
Konsep ABCDE ini bisa diterapkan. A adalah Abstinence, artinya tidak melakukan hubungan seksual. Ini bisa dilakukan untuk yang belum menikah atau pasangan seksualnya sedang berada jauh dalam waktu yang lama. B adalah Be Faithful, artinya tetaplah saling setia dengan pasangan. C adalah Condom, yang artinya jika seseorang mencoba untuk berperilaku seksual bergonta-ganti pasangan sudah seharusnya memproteksi dirinya dengan menggunakan kondom. Sedangkan D adalah Don’t Inject yang berarti jangan pernah menggunakan narkotika yang disuntikkan atau menggunakan jarum suntik apapun yang tidak steril, yang berisiko tertular infeksi darinya. Dan E adalah Education, yang artinya Edukasi atau mencari informasi yang benar tentang problem seksualitas. Jadi, dengan menerapkan konsep ABCDE ini selalu, maka perilaku seksual menjadi sehat dan tidak berisiko tertular infeksi menular seksual hingga HIV AIDS.
 
Mencari informasi dari sumber yang benar, menghindari pengalam seksual yang tidak menyenangkan, memelihara kebersihan organ kelamin, jangan malu dan segera mencari bantuan yang tepat jika mengalami masalah seksual adalah hal-hal penting yang harus dilakukan dalam kehidupan seksual. Dan senantiasa binalah komunikasi seksual yang baik dengan pasangan, karena kehidupan seksual yang baik akan membawa kualitas hidup yang baik, yang akhirnya akan membawa produktivitas kerja yang optimal. [bbn/dr. oka negara/psk]


Minggu, 14 Oktober 2018 | 11:58 WITA


TAGS: seksologi okanegara bali



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: