Ahli Tsunami: Jika Ada Gempa Lebih dari 2 Menit, Segera Jauhi Pantai

Selasa, 02 Oktober 2018 | 09:22 WITA

Ahli Tsunami: Jika Ada Gempa Lebih dari 2 Menit, Segera Jauhi Pantai

liputan6.com

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Jakarta. Tak hanya sekali ini, tsunami menerjang pesisir Indonesia. Sebut saja tsunami Aceh pada 2004. Atau tsunami Banda Naera pada 1674 yang tercatat sebagai tsunami terbesar di Tanah Air dengan ketinggian ombak mencapai 94 meter.
 
"Sebenarnya, tsunami warning itu ya gempanya sendiri. Tidak perlu menunggu BMKG, tidak perlu mengandalkan sistem peringatan dini BMKG. Indikatornya, kalau ada gempa tidak berhenti selama 2 menit, langsung lari menjauh dari pantai," ujar Abdul Muhari kepada Liputan6.com, Jakarta, Senin 1 Oktober 2018.
 
Menurut dia, peringatan tsunami tercepat yang dilakukan BMKG, melalui televisi. Namun, ketika gempa terjadi, masyarakat bakal langsung keluar rumah menghindari bangunan dan pohon.
 
"Tidak ada yang nonton TV lagi. Mereka sudah panik. Oleh karena itu, indikator yang bisa kami secara science peringatkan, jika ada gempa baik lemah maupun kuat tapi terjadi selama 2 menit tidak berhenti, langsung menjauh dari pantai," Abdul Muhari menjelaskan.
 
Mengapa 2 menit?
 
Pria yang memperoleh gelar doktornya dari Universitas Tohoku, Sendai, Jepang itu mengatakan, setiap gempa dan tsunami butuh pelepasan energi. Pada kasus-kasus yang terjadi sebelumnya, gempa yang berdurasi selama inilah yang mengakibatkan tsunami.
 
"Pada kasus-kasus yang terjadi sebelumnya, gempa yang terjadi dengan durasi lama, lebih dari 1 menit, membangkitkan tsunami," kata pria yang akrab disapa Aam itu.
 
Peneliti di Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawijaya mengatakan, pendidikan tentang gejala tsunami di Indonesia masih kurang. Padahal, sosialisasi dan pengajaran tentang tsunami dan gejalanya merupakan early warning system termurah yang bisa didapatkan pemerintah.
 
"Selama ini yang diajarkan secara umum di kita itu, tsunami diawali dengan air surut. Padahal tidak semua tsunami ditandai surutnya air," kata Danny Hilman kepada Liputan6.com, Senin.
 
Gempa dan tsunami Palu serta Donggala menyebabkan 844 orang meninggal dunia. Sebagian besar korban berasal dari Palu yang diterjang tsunami usai gempa. BNPB memperkirakan, jumlah korban gempa Palu, Donggala dan sekitarnya akan terus bertambah. Petugas, lanjut dia, masih terus melakukan evakuasi. [bbn/liputan6.com/psk]


Selasa, 02 Oktober 2018 | 09:22 WITA


TAGS: gempa tsunami



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: