I Nyoman Kaler, Maestro Tari dan Tabuh Pantang Hewan Berkaki Empat

Minggu, 23 September 2018 | 07:35 WITA

I Nyoman Kaler, Maestro Tari dan Tabuh Pantang Hewan Berkaki Empat

Beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. I Nyoman Kaler, nama yang hampir menjadi mitos. Seorang Mpu Tari dan Tabuh yang melahirkan banyak kreasi-kreasi, yang kemudian melambungkan nama Bali di seluruh dunia. Bersama dua rekannya, I Wayan Lontring dan I Ketut Marya, Kaler menjadi tokoh seniman Bali yang telah melegenda.
 

I Nyoman Kaler lahir pada tahun 1892 di Desa Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan. Ayahnya I Gede Bakta adalah seorang seniman serba bisa pada jamannya. Sang ibu Ni Ketut Taro, juga mempunyai darah seni. Kakeknya I Gede Salin, kemudia ayahnya sendiri merupakan guru tari dan tabuh yang punya nama. Kaler sendiri berguru kepada kakek dan ayahnya, yang nantinya mewariskan pada dirinya tari Nandhir, Baris, Kupu-kupu, Sisia Calon Arang, Wayang Wong, dan Parwa.
 
Kaler tak pernah mengenyam pendidikan formal, sebab seingatnya, sampe tahun 1900 di Denpasar belum dibuka sekolah-sekolah. Namun kemampuannya baik baca tulis aksara Bali maupun huruf latin tak bisa di ragukan. Kepandaian ini di dapat dari pendidikan non formal di sela-sela kesibukannya memperdalam seni tari dan tabuh.
 
Dalam penguasaan tari dan tabuh pegambuhan ia sempat didik oleh I Gusti Gede Candu, I Made Saryada, I Made nyarikan, semuanya dari Denpasar, dan I Made Sudana dari Tegal Tamu. Pada tahun 1918, dalam usia 26 tahun, I Nyoman Kaler memperdalam tari legong kraton pada gurunya, Ida Bagus Boda dari Kaliung Kelod, Denpasar. Tahun 1924 memperdalam tari dan tabuh pada Anak Agung Raih Pahang dari Sukawati, Gianyar. Kaler sangat terkesan pada gurunya yang satu ini. Cara mengajar gurunya yang luar biasa itu memungkinkan Nyoman Kaler memahami seluk beluk dan gerak tari dengan mendalam. Kaler pun menjadi murid kesayangan karena bakatnya yang mengagumkan. Sampai-sampai sang guru menganugrahkan seekor kuda pada murid yang rajin ini.
 
Hampir sepenuhnya riwayat hidup Nyoman Kaler diabdikan untuk kesenian. Dari tahun 1918 sampai 1959 Kaler bak bintang yang menyala. Karya dan pemikirannya terhadap seni tumbuh subur mulai tahun 1920 ia telah berani melakukan inovasi kreatif, yang pertama adalah mempuerbaharui gerak tari gandrung. I Nyoman Kaler pertama yang memberanikan diri mempertontonkan tari legong dengan iringan gong kebyar, ini dilakukan tahun 1930. Pada tahun 1933, bersama Anak Agung Ngurah Bagus Sambah, Kaler berdiskusi serius mengenai tambahan gerak tari palegongan. 2 tahun berikutnya tahun 1935, dengan iringan gong kebyar lahir ciptaan pertamanya, yakni Tari Samirata, Dayang Ngeleyak dan Pangaksama.
 
Tahun 1942 I Nyoman Kaler menciptakan Tari Damang Miring, Tari Margapati, Tari Wiranata, Tari Puspa Warna, dan Cadra Metu. Mengenai Candra Metu, bahwa tari ini di akui berasal dari karya I Wayang Lotring, Nyoman Kaler hanya mengubah dan menabah beberapa bagian saja, mengubah gerak laki menjadi perempuan. Di tahun 1934 I Nyoman Kaler aktiv mengajar di beberapa tempat, antara lain di Desa Tegeha Kesiman, Banjar Ketapena Kesiman, serta di Pemedilan. Meluluskan penari terkenal I Regog, I sarin, dan I Wayang Rindi. Di Tohpati pada tahun 1938 ia mengajar Tabuh, serta menghadirkan seorang pengrawit I Ketut Gelebig. 
 
Sementara di tahun 1939 ia mengajar di Kerobokan, serta melahirkan penari Ni Nyoman Muri, I Wayang Rika, Dkk. 7 tahun berikutnya, di tempat yang sama ia juga melahirkan seorang penari dan penabuh I Nyowan Ridet. Di Mengwi, tahun 1940 Nyoman Kaler mewisuda seniman terkenal I Wayan Likes. Kemudian atas permintaan Pemerintah RRC, tahun 1959 sampai 1961 I Wayan Likes mengajar tabuh Moskow namun lacur, tiba di Jakarta tahun 1963, Likes meninggal karena sakit.
 

Setahun setelah kemerdekaan, Nyoman Kaler mengajar Legong di Tangguntiti, lahirlah penari Ni Made Darmi, penari terkenal kesayangan Presiden Soekarno. Tahun 1948 ia melawat ke Surabaya menyertai rombongan kesenian pimpinan anaknya I Made Tantra. Di Belaluan tahun 1949, ia melahirkan pengrawit I Wayan Brata. Tahun 1951 menjadi peserta misi kesenian keluar negri (Srilangka dan Singapur). 1 tahun berikut nya, bersama Anak Agung Made Gria dan Nyoman Rembang di angkat sebagai guru tetap pada konser Vatori Kerawitan Indonesia-Surakarta.
 
Setelah pensiun dari Konsevarori Kerawitan, Surakarta, tahun 1959, Kaler diangkat sebagai guru tidak tetap KOKAR Bali pada jurusan tari dan tabuh. Atas pengabdiannya itu, seniman yang berpantang pada daging hewan kaki 4 ini, memperoleh anugrah Dharma Kusuma Provinsi Bali, tahun 1980, dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali Prov.Dr.Ida Bagus Mantra. (bbn/rls/rob)


Minggu, 23 September 2018 | 07:35 WITA


TAGS: I Nyoman Kaler Seniman Denpasar Maestri Tari dan Tabuh Pantang Hewan Berkaki Empat



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: