Seksologi dr Oka Negara, FIAS

Setahun Menikah, Istri Selalu Menolak Diajak Berhubungan Intim

Minggu, 16 September 2018 | 08:43 WITA

Setahun Menikah, Istri Selalu Menolak Diajak Berhubungan Intim

beritabali.com/ilustrasi

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Tanya: 'Dok, saya sudah hampir setahun menikah tapi kenapa istri saya tidak pernah mau diajak berhubungan intim sampai sekarang ini, apakah mungkin istri saya takut sakit saat hubungan intim, dan apa solusi nya agar saya bisa mendapatkan momen pertama saya,dok?” (Gus,27).
 
Jawab: Cukup terkejut juga saya saat membaca pertanyaan ini. Satu tahun tentu saja sebuah waktu yang cukup lama bagi sepasang suami istri untuk tidak melakukan hubungan seksual, padahal salah satu yang diharapkan dari sebuah pernikahan adalah memiliki keturunan, dan untuk mendapatkan keturunan secara alamiah tentu saja harus dengan melakukan hubungan seksual. Hubungan seks saat ini memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah fungsi reproduksi dan fungsi rekreasi. Reproduksi, seperti yang disebutkan tadi, untuk mendapatkan keturunan, sedangkan fungsi rekreasi adalah untuk mendapatkan kenikmatan, kesenangan, atau kenyamanan. Aktivitas seks yang dilakukan dengan baik, disertai komunikasi seksual yang baik, justru akan membahagiakan dan meningkatkan kualitas hidup.
 
Tentu saja yang kemudian perlu dilakukan adalah dengan membuka keran komunikasi seksual yang bisa jadi selama ini buntu. Tentu perlu pendekatan khusus jika selama ini tidak terbiasa terbuka berbicara tentang hal-hal yang berkaitan secara seksual dengan pasangan. Suka tidak suka, ini memang harus dilakukan. Ada beberapa hal juga yang perlu ditanyakan atau dicari tahu sebelumnya. 
 
Yang pertama adalah kepada diri sendiri, apakah bagi diri sendiri ini merupakan sebuah masalah besar yang harus dicari solusinya? Untuk pasangan awam, apalagi di usia masih muda, justru seharusnya di usia sekian dorongan seksual masih hangat atau membara.
 
Kemudian dicari tahu dan bicarakan baik-baik, untuk menentukan apakah sesungguhnya kita sudah mengenal dengan baik pasangan kita seutuhnya, pernahkah melihatnya dengan jelas dalam keadaan sedang terbuka bersama, dan dilihat langsung kondisi fisiknya. Bukan bermaksud membodohi, tetapi pernah ada kejadian di mana seorang suami yang tidak pernah berhubungan seksual ternyata belakangan baru tersadar bahwa sesungguhnya yang dinikahi bukanlah seorang perempuan, karena selama ini tidak pernah melihat pasangan dalam keadaan tanpa busana, kalaupun tidur bersama juga mematikan lampu. Semoga bukan ini yang dimaksud.
 
Jika bukan itu, pertanyaan berikutnya apakah selama ini sudah pernah mencoba melakukan hubungan seksual walau dipaksakan? Kalau pernah, bagaimana responnya? Apakah menolak keras, atau mau mencoba melakukan hubungan seksual tetapi merasakan nyeri atau malah kita merasa kesulitan untuk melakukan penetrasi atau memasukkan penis ke dalam vagina? Kemungkinan diagnosisnya akhirnya beragam. 
 
Jika istri menolak karena merasa tidak memiliki gairah seksual, bisa saja yang terjadi adalah gangguan dorongan seksual yang menurun atau Hipoactive Sexual Desire. Jika menolak karena setelah dicoba ternyata terasa sakit, bisa saja yang terjadi adalah gangguan nyeri saat berhubungan seksual yang disebut dengan Dyspareunia. Kurangnya pemanasan seksual yang akhirnya tidak menimbulkan perlendiran vagina saat berhubungan seksual juga bisa terjadi dan jika dipaksakan bisa memicu rasa nyeri. 
 
Jika sempat dicoba untuk berhubungan seksual tetapi terasa mulut vagina tertutup rapat karena ada kekejangan otot vagina, bisa saja yang terjadi adalah Vaginismus namanya. Ada kemungkinan lainnya juga adalah penolakan karena memang merasa ada rasa jijik buat melakukan hubungan seksual, yang disebut dengan Aversi Seksual. Satu kemungkinan lain yang juga perlu dipertanyakan adalah apakah kira-kira ada orientasi seksual yang berbeda dari yang diharapkan suami, maksudnya sebenarnya jangan-jangan secara seksual si istri lebih tertarik kepada perempuan, dan bukan laki-laki, yang disebut dengan homoseksual, atau jika terjadi pada perempuan disebut dengan lesbian, dan baginya pernikahan adalah alasan untuk terlihat menjadi lebih wajar menurutnya di hadapan orang lain.
 
Jadi sebenarnya cukup banyak pertanyaan, yang perlu dijawab dulu, jika hanya melihat keterangan singkat dari yang ditanyakan. Tetapi dari semua itu tentu saja pendekatan untuk melakukan diskusi terbuka bersama pasangan, atau bisa disebut dengan berkomunikasi seksual adalah sebuah keharusan, sekaligus sebuah hal yang perlu hati-hati dilakukan untuk mendapatkan jawaban. 
 
Kemudian seandainya yang kemungkinan terjadi adalah beberapa gangguan yang berkaitan dengan hilangnya dorongan seksual, bisa kemudian mencari pertolongan ke dokter yang paham kesehatan seksual, untuk memastikan penyebabnya, siapa tahu terjadi penurunan level hormon testosteron, yang juga terdapat pada perempuan, sebagai hormon yang bertanggung jawab mengatur dorongan seksual. 
 
Jika yang terjadi adalah berkaitan dengan tidak adanya lubrikasi vagina dan rasa nyeri jika dipaksakan untuk berhubungan seksual karena vagina yang tidak mengalami pelumasan, juga bisa dibantu oleh dokter dengan pemberian obat golongan PDE-5 inhibitor yang akan membantu pelebaran pembuluh darah seputar vagina. Jika ternyata yang terjadi adalah nyeri dyspareunia, atau kaku otot vagina yang disebut dengan vaginismus, atau malah penolakan yang berupa aversi seksual, maka ini perlu penanganan dengan cermat dan hati-hati karena sering kali penyebabnya adalah permasalahan psikis atau trauma psikologis seksual di masa lalu yang belum tuntas dan masih berdampak di saat sekarang. 
 
Jadi, pastikan dulu jenis gangguan dan penyebab pastinya, untuk kemudian mendapatkan penanganan yang lebih baik dan lebih tepat. Semakin awal dikonsultasikan semakin baik. [bbn/dr.oka negara/psk]


Minggu, 16 September 2018 | 08:43 WITA


TAGS: seksologi okanegara bali



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: