Tabulapot Sebagai Peluang Bisnis Baru Bagi Masyarakat Kota

Minggu, 05 Agustus 2018 | 15:15 WITA

Tabulapot Sebagai Peluang Bisnis Baru Bagi Masyarakat Kota

Sarjana

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Teknik hidroponik dan tanam buah dalam pot (tabulampot) dapat menjadi peluang bisnis baru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kota. Tabulapot juga menjadi jalan untuk mengembangan pertanian di lahan terbatas, sehingga bisa dilakukan masyarakat perkotaan khususnya ibu-ibu dan generasi mileneal. Demikian diungkapkan Ketua Kebun Percobaan Fakultas Pertanian (FP), Universitas Udayana (Unud) Prof. Dr. Ir. I Ketut Budi Susrusa, MS saat membuka pengabdian masyarakat di Kebun Percobaan FP Unud di Jln. Pulau Moyo Denpasar, Minggu (5/8) kemaren.

Pengabdian masyarakat berupa pelatihan teknik budidaya hidroponik dan tabulampot diikuti tiga Kelompok Wanita Tani (KWT) yakni KWT Sanur Asri Lestari dan Sanur Berseri dari Desa Sanur Kauh, serta KWT Permata dari Nusa Dua, Badung. Peserta kegiatan ada sekitar 50 orang anggota KWT. Kegiatan ini serangkaian peringatan HUT FP Unud ke-51 yang jatuh pada 2 September mendatang.

Prof. Budi Susrusa menambahkan kegiatan pengabdian sebagai salah satu bentuk pelaksanaan tri darma perguruan tinggi yang intinya berbagi tentang teknologi praktis ke tengah-tengah masyarakat. “segala pengetahuan yang didapat akademisi lalu dioperasionalkan dengan bahasa yang sederhana dan dibagikan kepada masyarakat. Seperti teknik bertani hidroponik dan tabulampot, kegiatan bertani yang tidak mesti kotor. Semoga Kegiatan ini dapat bermanfaat bagi bapak/ibu yang mengikuti pelatihan,” tegasnya.

Dua ahli budidaya pertanian Unud Dr. Ir, Gede Wijana, MS dan Ir. IG Alit Gunadi, MS yang tampil sebagai nara sumber mendukung pernyataan Prof. Budisusrusa tersebut. Dr. Gede Wijana menuturkan bagi masyarakat perkotaan dapat menerapkan pertanian hidroponik untuk mendukung ketahanan pangan.

Melalui tanaman hidroponik ibu-ibu rumah tangga yang tergabung dalam KWT, jelasnya, dapat memproduksi aneka sayur mayur seperti sayur hijau, kangkung, seledri dan lain-lain minimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “Syukur-syukur hasilnya berlebih sehingga bisa dijual, budidaya hidroponik bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi keluarga,” tuturnya.

Dr. Wijana menjelaskan kegiatan usaha hidroponik bisa dilaksanakan di area pekarangan rumah yang sempit, seperti menempel instalasinya pada dinding/tembok pekaranga atau gang. Asal mendapatkan sinar matahari walau sedikit, jelasnya, budidaya hidroponik pasti berhasil. “Syarat bertani secara umum harus diikuti, seperti penyiapan lahan (instalasi hidroponik), unsur hara yang dibutuhkan tanaman, dan bibit,” ujarnya. Ditambahkan, biaya instalasi bertani hidroponik dapat menggunakan pipa dengan kisaran biaya yang relatif murah dan terjangkau.

Semantara itu, Alit Gunadi menambahkan budidaya tanaman buah dalam pot (tabulampot) saat ini menjadi pilihan para generasi usia lanjut atau yang memasuki pensiun. “Baru-baru ini ada permintaan dari karyawan BUMD di Lombok yang meminta kami memberi pelatihan tabulampot bagi mereka yang segera memasuki purna tugas,” tuturnya meyakinkan. Dijelaskan, mengelola tabulampot membutuhkan kesabaran dibandingkan hidroponik. Biasanya butuh waktu dua atau tiga tahun baru tanamannya menghasilkan buah. Oleh karena itu, mengelola tabulampot harus dijadikan hobi sehingga kegiatannya menyenangkan, dan rejek pada akhirnya akan datang mengikuti ketekunan mengelola tabulampot.

Dipaparkan sedikitnya ada tiga fungsi tabulampot yakni memperindah halaman (estetika), penyedia oksigen, dan menghasilkan buah. Tabulampot, katanya, juga menjadi pilihan bertani lahan sempit diperkotaan. Selain penjelasan singkat dikelas, kegiatan tersebut diisi dengan praktik langsung mengelola tabulampot dan hidroponik.

Sejumlah peserta menyatakan kegiatan ini sangat bermanfaat bagi peningkatan produktivitas KWT. Wayan Sri Sutari pengurus PKK Sanur Kauh menyatakan pihaknya setuju hidoponik dan tabulampot menjadi peluang bisnis baru perkotaan. PKK Desa Sanur Kauh, katanya, diminta memasok sayur mayur segar ke sejumlah hotel dan restaurant di kawasan Sanur. “Kami rencananya kerjasama dengan FP Unud menggarap pengembangan hidroponik dengan sekala usaha yang lebih besar, bukan rumah tangga lagi. Desa sudah menyediakan lahan kurang lebih lima are,” jelasnya. [bbn/Sarjana/mul]  


Minggu, 05 Agustus 2018 | 15:15 WITA


TAGS: Tabulapot Bisnis Baru Masyarakat Kota



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: