Sekelumit Kisah Derita Wirya Dibalik Penanganan Bayinya Yang Telah Tiada

Birokrasi Rumit Hingga Fasilitas dan Pelayanan Tidak Memadai di RSUD Karangasem

Minggu, 01 Juli 2018 | 09:25 WITA

Birokrasi Rumit Hingga Fasilitas dan Pelayanan Tidak Memadai di RSUD Karangasem

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com,Karangasem. Duka mendalam dirasakan oleh pasangan suami istri I Wayan Gede Wirya dan Maria Getrudis Mbembok asal Desa Ababi, Abang, Karangasem yang harus menelan kepahitan ketika tim medis RSU Karangasem menyatakan buah hati yang baru saja dilahirkan telah tiada. 
 

Namun, dibalik rasa duka itu terselip sebuah pertanyaan besar dan rasa kekecewaan yang sangat mendalam atas proses yang dijalani mulai dari proses birokrasi, fasilitas hingga berbagai problema pelayanan diberikan. 
 
Berikut penuturan I Wayan Gede Wirya seorang ayah tegar menahan rasa duka nestapa yang tak ingin kejadian serupa dialami oleh orang lain.
 
Awal ceritra, saat itu Hari Sabtu (23/06) sekitar pukul 08.46 wita, dirinya seperti biasa melaksanakan tugas sebagai polisi di Polsek Karangasem, namun tanpa firasat apapun, tiba-tiba sang anak yang paling bungsu menelpon sambil menangis meminta agar dirinya cepat pulang.
 
Karena hawatir terjadi sesuatu, akhirnya dirinya langsung pulang, namun sesampainya dirumah didapati sang istri sudah dalam keadaan terduduk lemas dengan didampingi kedua anaknya sambil menangis dan panik. Merasa hal ini sangat emergensi, Wirya kemudian bersiap untuk membawanya ke rumah sakit. Namun belum berangkat, sang istri tiba-tiba jatuh pingsan tak sadarkan diri dengan muka membiru dan kaki serta tangan kejang.
 
Situasi saat itu membuat Wirya panik dan sangat khawatir mengingat istrinya sedang mengandung sekitar 34 minggu hingga akhirnya dibantu kedua anaknya menaikkan ke mobil untuk dibawa ke Rumah Sakit. 
 
Sekira pukul 09.15 wita, Wirya bersama sang istri yang masih tak sadarkan diri sampai di UGD Rumah Sakit Balimed dan langsung mendapat penaganan dengan sangat baik dan ramah. Disana Wirya kemudian menghubungi Dokter Ahli Kandungan tempat istrinya kontrol selama ini. Beberapa saat setelah ditelpon, dokter tersebut sampai di UGD RS Balimed. Disana dokter mempelajari atas apa yang dialami istrinya tersebut. Selang beberapa saat, dokter menyatakan bahwa istrinya harus segera diambil tindakan demi keselamatan ibu dan bayi yang dikandungnya. 
 
"kalau tidak salah dokter menyampaikan bahwa istri saya menderita keracunan kehamilan dan harus segera dilaksanakan operasi cesar," ujarnya.
 
Namun karena fasilitas di RS Balimed belum memadai terutama alat perawatan bayi, Dokter akhirnya memberikan rujukan ke RSUD Karangasem. Selang beberapa menit, sang istri lantas diberangkatkan dengan menggunakan ambulance didampingi oleh dua orang petugas medis serta dokter yang merawat sudah mendahului ke RSUD Karangasem.
 
Tiba di UGD khusus ibu hamil RSUD Karangasem, seperti biasa dirinya diminta untuk melakukan pendaftaran di bagian depan UGD. Selang beberapa saat setelah semua persiapan selesai akhirnya istri saya dibawa ke ruang operasi tentunya dengan berbagai surat-surat yang mesti ditandatangani terlebih dahulu.
 
"Saya hanya mendapat penjelasan singkat dari petugas karena saya dalam keadaan panik saya tidak sempat membacanya, pokoknya saya minta fasilitas yang terbaik dari rumah sakit," tandasnya.
 
Setelah menandatangani berbagai surat surat tersebut akhirnya operasi dilakukan. Dirinya menunggu tepat di luar ruang operasi yang didampingi oleh saudaranya. Kemudian beberapa saat kemudian, datang petugas dengan membawa bayi menggunakan alat incubator dan menyampaikan bahwa bayi itu adalah anak kami. Hanya saja bayi kami saat itu harus segera dibawa keruang micu bayi di lantai 3, lantaran dikatakan keadaannya darurat. Di ruang micu, bayi kecil Wirya kemudian diberikan perawatan oleh bidan dan dokter secara baik hingga bayi kami dimasukkan kembali ke incubator dengan dipasangi alat bantu selengkapnya.
 
Namun bayi kecil Wirya tak kunjung terdengar tangisannya sebagai tanda bahwa keadaannya baik baik saja. Disana dirinya mengira kemungkinan pengaruh obat bius saat di lakukan operasi. Setelah dilakukan pemeriksaan darah menurut penjelasan dokter yang menangani, ternyata HB darah bayi tersebut hanya 2,2  dari perkiraan normal diatas 10 HB, disana para bidan dan dokter langsung berusaha keras dan disampaikan akan dilakukan tranfusi darah.
 
Di sisi lain istrinya yang baru saja menjalani operasi belum sadar sepenuhnya dan masih dirawat di ruang ICU. Kemudian sekitar pukul 14.00 wita barulah kondisi istrinya itu agak membaik, hanya saja petugas medis mengatakan akan dilakukan pemantauan hingga 24 jam.
 
Sementara itu, pada sepanjang hari yang melelahkan tersebut, Wirya tidak hanya diam, dirinya disuruh bolak-balik oleh petugas untuk mencari obat ke klinik RS. Dalam benaknya Wirya mengatakan inilah birokrasi kesehatan RS yang kurang saya pahami, bagaimana pemerintah mencanangkan pelayanan prima yang baik seperti salah satunya terpampang dalam program pemerintah daerah.
 
Setelah semuanya terlewati, sekitar pukul 20.00 wita, dirinya mendapat panggilan dari ruang micu bayi yang memberi arahan membawa lembaran kertas untuk menghubungi petugas PMI meminta darah untuk transfusi bayinya. Dengan harapan yang terbaik bagi bayinya, Wirya lantas berangkat keruang PMI, namun sesampainya disana Wirya bertemu dengan petugas namun mereka justru  bertanya dan meminta jaminan agar dirinya menjadi pengganti.
 
Disana, Wirya sempat menyuruh petugas untuk melihat buku donor agar dicek bahwa dirinya sudah puluhan kali menyumbangkan darah untuk kemanusiaan hanya saja saat itu dirinya kebetulan tidak membawa kartu donor. Setelah melakukan pembicaraan cukup alot, dengan meninggalkan nama beserta kesatuan tempatnya bekerja dilengkapi dengan nomor hp, barulah darah yang ditunggu tunggu bayinya tersebut turun rekomendasi pemberian darahnya.
 
Setelah mendapatkan rekomendasi itu, Wirya lantas kembali ke ruang micu anak untuk menyampaikan lembaran kertas rekomendasi yang didapatnya, namun lagi-lagi Wirya harus boal balik mengurus hingga 3 kali sebelum akhirnya transfusi dilakukan.
 
"Ini lagi birokrasi yang membuat saya bingung dengan pelayanan di RS pemerintah," tanyanya dalam hati.
 
Keesokan harinya, Minggu (24/06) dirinya dipanggil untuk melihat keadaan bayinya yang kelihatan masih sangat lemah, meski kondisinya seperti itu, Wirya sangat berterimakasih kepada bidan dan dokter yang sudah merawat dengan baik melayani anaknya. 
 
Di sisi lain, usai tranfusi pertama berjalan dengan lancar, rencana untuk tranfusi darah yang ke-2 menemui kendala bahkan gagal karena bayi Wirya mengalami pembengkakan pada badannya. Mendapati kondisi Bayinya seperti itu, Wirya hanya bisa pasrah meminta pelayanan dan usaha yang terbaik dari petugas. Hingga akhirnya menjelang pukul 10.00 wita, muncul kabar menyejukkan dari salah satu bidan yang mengirimkan video memperlihatkan bayinya sudah mulai bisa menangis namun keadaannya masih sangat lemah dan HB dalam darahnya belum menunjukkan peningkatan. 
 
Tetapi karena melihat bayinya sudah bisa menangis dan wajahnya sudah agak memerah Wirya merasa sangat senang melihatnya sehingga dirinya segera datang melihat bayinya yang masih berada didalam incubator.
 
"Saat melihatnya mulai menangis, Wirya tak kuasa menahan tangis dan berkata dalam hati walaupun hanya sekali namun rasanya sudah sangat senang dan detak jantungnya sudah mulai normal matanya mulai terbuka walau sedikit, dirinya merasa mendapat air minum disaat kehausan," ungkapnya.
 
Sempat direncanakan siang itu akan dilakukan tranfusi darah namun dokter tidak berani karena badan Bayi Wirya dikatakan membengkak melalui penekanan kulit yang tidak kunjung kembali normal. Sementara itu, sekitar pukul 15.00 wita, Wirya dipanggil lagi oleh bagian ICU dimana istri dirawat dan dokter disana menyampaikan akan segera memindahkan istrinya ke ruangan untuk menempati ruang rawat sesuai dengan keinginannya mendapatak fasilitas yang bagus di rumah sakit tanpa baca dan tanpa penjelasan dari pihak RS dan keadaan kalut tanpa pikir panjang langsung menandatangani hingga akhirnya istrinya dirawat inap di ruang VIP-A  gedung Wijaya Kusuma lantai dua no 215. Saat masuk keruangan VIP-A rumah sakit kelas C ini, tercium bau ruangan yang cukup menyengat bahkan sarang laba - laba masih ada di kamar mandi bagian belakang, tidak hanya itu pada bagian lantainya juga terlihat masih kotor semua fasilitas yang ada seperti microfon tidak aktif, rimot TV tidak ada, keran di kamar mandi patah, fasilitas air panas tidak ada, apalagi tisue dan sabun untuk kelengkapan pasilitas VIP sama sekali tidak ada.
 
Menjelang subuh, tepatnya pada tanggal 25 juni 2018 sekira pukul 03.30 wita, dirinya mendapat telpon dari bagian rawat anak agar datang ke ruangan. Sesampainya disana dijelaskan oleh bidan bahwa bayi Wirya kondisinya menurun. Mendapati kondisi Bayinya seperti itu, disana Wirya sempat menanyakan apakah hanya bidan saja yang merawat bayinya tanpa ada dokter ahli. Disana Wirya mendapatkan jawaban yang membuat kecewa bahwa dokter ahlinya sempat dihubungi beberapa kali namun tidak mengangkat telponnya.
 
Sekira pukul 06.30 wita, Wirya kembali me dapat telepon dari ruang perawatan bayi diminta agar segera datang ke sana, Saat tiba disana Wirya sudah ditunggu oleh seorang dokter perempuan menggunakan masker dan menjelaskan bahwa mereka meminta maaf karena tidak bisa menolong lagi bayi kami dan dokter tersebut meminta agar dirinya bisa menerima. 
 
Disana, mendengar penjelasan dokter, seketika napas Wirya rasanya ikut berhenti dan hampir tidak kuat lagi untuk berdiri tetapi dirinya tetap berusaha untuk tetap tegar meskipun sesak didada namun dirinya berusha mencoba untuk menerimanya mungkin ini sudah menjadi takdir. Setelah itu, perawat meminta ijin akan melepaskan alat yang terpasang di tubuh bayinya itu. Selanjutnya setelah seluruh alat yang terpasang di tubuhnya, Wirya kemudian diberikan kesempatan untuk memegang bayi kecilnya tersebut sambil berpesan dalam hati "berangkatlah nak semoga perjalannanmu baik terimakasih kamu telah hadir walau hanya sebentar" doanya.
 
Namun sesuatu yang janggal terjadi, berselang 10 sampai 15 menit kemudian tiba-tiba bayi yang dinyatakan meninggal oleh dokter kembali bernafas dan badannya seperti sesegukan. Melihat kondisi tersebut, Wirya segera menyampaikan kepada petugas. 
 
Para petugas yang saat itu melihat kondisi bayinya itu sangat terkejut termasuk dokter yang menyampaikan meninggal pun datang mendekat serta dengan cepat kembali memasang alat yang dilepas sebelumnya. Situasi semakin tegang, di satu sisi dokter ahli yang ditugaskan untuk merawat juga belum datang akhirnya Wirya memberanikan diri untuk menelpon dokter ahli kandungan yang menangani istri saya karena beliau adalah dokter senior di RSUD ini dan menyampaikan apa yang terjadi. selanjutnya beliau mengatakan akan segera menghubungi dokter yang harusnya menangani Bayi.
 
Sekira pukul 07.00 wita, dokter ahli akhirnya datang, hanya saja datang dengan wajah seperti baru bangun dan tanpa ngomong apapun kepada saya selaku orang tua, dalam kondisi seperti itu sebagai orang tuan Wirya kembali merasa sangat kecewa. Setelah itu, Bayi Wirya kembali dipasangi alat lain yang dimasukkan ke dalam paru-parunya dan alat tersebutlah yang akhirnya mengantar bayi kecil wirya hingga napas terakhirnya tepat sekira pukul 09.00 wita.
 
Selanjutnya, usai melaksanakan ritual penguburan jenasah bayinya, Sekitar pukul 00.30 wita pada Selasa (26/06) Wirya kembali ke ruang perawatan istri disana lagi lagi wirya mendapati tidak ada petugas jaga yang seharusnya tetap terjaga. 
 
Kemudian keesokan harinya sekitar  pukul 08.00 wita, datanglah dokter jaga dan melakukan cek tensi serta pemeriksaan dengan teleskop dan beberapa saat setelah itu dokter menyampaikan bahwa istrinya diperkenankan untuk istirahat di rumah padahal kondisi fisiknya saat itu terlihat masih sangat lemah bahkan berdiri pun belum stabil.
 
"Karena saya awam dengan masalah kesehatan sayapun mengiyakannya hanya menunggu keputusan dari dokter ahli yang merawatnya selama 2 hari dirawat di ruang WK kamar no 215 ini belum ada dokter ahli kandungan yang melihat, saya maklum karena saya sempat hubungi beliau ada kuliah di denpasar," ungkapnya.
 
Selang beberapa saat, datang seorang dokter bersama tenaga medis mengatakan bahwa dokter spesialis yang merawat istrinya berhalangan dan dikatakan beliau sudah memberi keputusan untuk istirahat di rumah dengan tanpa memberitahukan kondisi istri saya langsung melepaskan infus yang terpasang di lengannya.
 

Setelah itu, karena diperbolehkan pulang, Wirya lantas melakukan pengurusan administrasi kebagian depan ruangan untuk melakukan pembayaran namun dari pihak rumah sakit menyampaikan bahwa rincian biaya belum ada karena BPJS sudah tutup. Mendapat penjelasan seperti itu, Wirya mulai curiga dan terheran heran. Disana Wirya akhirnya dimintai jaminan berupa KTP serta mencatat nama dan no telpon dengan alasan jika sudah selesai akan dihubungi oleh pihak rumah sakit.
 
Akhirnya hari itu juga, Wirya membawa istrinya pulang ke rumah meski dengan kondisi masih sangat lemah. Tepat saat pemilihan Pilgub Bali, (27/06), Wirya kembali ke kantor karena merasa sudah lama tidak melaksanakan tugasnya. Namun lagi lagi sekitar pukul 10.00 Wita dirinya kembali ditelpon oleh anaknya dan mengatakan bahwa kondisi istri sangat lemah dan menurun dingin serta pusing, akhirnya Wirya kembali ke rumah dan menelfon dokter ahli yang merawatnya meminta agar istrinya dirawat dirumah sakit Balimed. Setelah melakukan konsultasi dengan dokter ahli yang merawatnya, akhirnya  istrinya harus dirawat inap.
 
Keesokan harinya, pihak RSUD Karangasem akhirnya menelpon memberitahukan tentang pembayaran sejumlah 4 juta lebih. Wirya lantas datang ke gedung WK dan menuju bagian administrasinya untuk menanyakan jumlah yang harus dibayarkan serta rincian biayanya namun setelah dilihat dan baca tertulis total biaya pengobatan istrinya sebesar  Rp. 10.296.907  dan biaya INA-CBGS Rp. 9.035.100.  Disana dirinya bertanya kok bisa bayar sampai 4 juta padahal selisih dirinciannya hanya sekitar 1 jutaan.
 
"saya minta penjelasan namun petugas menyampaikan agar saya bertanya di kasir jaraknyapun cukup jauh sayapun pergi ke kasir dan setelah disana saya tanyakan kembali pertanyaan yang sama namun jawaban kasir, ini sudah rumusnya tarif INA-CBGS dikalikan 45% sehingga harus membayar 4 jutaan," terangnya.
 
Mendapat jawaban seperti itu, Wirya merasa belum puas dengan jawaban tersebut. sehingga dirinya kembali bertanya ke kasir, kasirpun menjawab sebaiknya bapak ke bagian administrasinya dan dirinyapun langsung diantar kesana. Disana rupanya Wirya juga mendapatkan jawaban yang sama dan bahkan lebih membingungkan lagi begini; "Kalau bapak menggunakan paskes kelas  1 dinaikkan ke VIP maka tanggungan INA-CBS dikalikan 45% itulah yang harus bapak bayar, sedangkan kalau bapak naik dari kelas 1 ke VVIP itu baru bayar selisihnya," begitu katanya.
 
Karena merasa tidak adil dan tidak puas Wirya sempat berkata kepada seluruh yang ada diruangan terbut masalah uang dirinya tidak jadi soal dan akan lunasi semuanya. Hanya saja yang jadi masalah kenapa dirinya merasakan ketidak jelasan dan ketidak adilan disini, bahkan dirinya juga sempat disuruh mengadukan ke bagian humas namun Wirya merasa ini konspirasi dan percuma untuk bertanya.
 
Dirinya berharap, semoga orang lain tidak mengalami hal seperti yang dialaminya lagi khususnya di rumah sakit kebanggaan warga yaitu RSUD Karangasem. (bbn/igs/rob)
 
 
 


Minggu, 01 Juli 2018 | 09:25 WITA


TAGS: Keluhan Pasien RSUD Karangasem



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: