Topeng Sidhakarya Sebagai Penuntas Upakara di Bali

Rabu, 13 Juni 2018 | 18:55 WITA

Topeng Sidhakarya Sebagai Penuntas Upakara di Bali

Gita

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Topeng Sidhakarya merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan sakral di Bali yang menjadi bagian dari dramatari Topeng Pajegan. Keberadaan Topeng Pajegan Sidhakarya ini erat kaitannya dengan upacara keagamaan (wali), sehingga Topeng Sidhakarya lebih sering disebut Topeng Wali.


Topeng Sidhakarya memiliki kekhasan yang tergolong unik, berupa wujud dan pancaran ekspresi tersendiri yang spesifik. Dengan ditarikannya Topeng Sidhakarya di bagian akhir atau puncak pementasan Topeng Pajegan, maka upacara atau upakara dianggap telah tuntas, memenuhi persyaratan, sukses atau berhasil sempurna. Sesuai dengan arti kata Sidhakarya, sidha (bisa/berhasil) dan karya (kerja/pekerjaan).

Menurut Seniman Topeng I Ketut Kodi, SS.Kar., M.Si., penari Topeng Sidhakarya bukan orang sembarangan, artinya penari harus mempunyai benteng diri secara niskala yang kuat karena ucapan mantra tersebut mengundang kekuatan jahat untuk menyerang penari.

“Suatu keniscayaan bahwa ucapan mantra menuju kebaikan tentu akan dihadapkan pada tantangan dari pengaruh ilmu hitam. Jadi, beban mental spiritual seorang pelaku atau penari Topeng Sidhakarya sangatlah tinggi,” papar Kodi yang juga dosen ISI Denpasar itu saat dikonfirmasi di Denpasar pada Rabu (23/5) lalu.

Guru Besar ISI Denpasar Prof. I Wayan Dibia mengungkapkan bahwa keberadaan Topeng Sidhakarya di Bali memiliki asal-usul tersendiri. Dibia menuturkan pada abad ke-15, pada pemerintahan Dalem Waturenggong (tahun 1460-1550 M) di Bali, di suatu daerah di Jawa Timur yang bernama Keling ada seorang pendeta yang sangat termashyur karena kesaktiannya, berjuluk Brahmana Keling. Ia datang ke Bali untuk bertemu Dalem Waturenggong yang saat itu sedang berada di Pura Besakih guna mempersiapkan upacara besar.

Begitu menghadap, Brahmana Keling yang sangat kumal dan dekil ternyata diusir oleh Dalem Waturenggong. Brahmana Keling pun tersinggung lalu dengan kesaktiannya ia mengucapkan kutuk pastu sehingga di Bali terjadi wabah besar, tanaman mati, tanah gersang, dan penyakit merajalela. Setelah mengucapkan pastu, Brahmana Keling lalu pergi dan mendirikan Pasraman di Badanda Negara (sekarang Sidakarya, Denpasar Selatan). Melihat kenyataan wabah besar seperti itu, Dalem Waturenggong beserta segenap rakyat kerajaan menyadari dan menyesali perbuatannya telah melakukan tindakan tidak terpuji mengusir dengan cara tidak hormat   Brahmana Keling yang ternyata bukan orang sembarangan itu.


Dalem Waturenggong mengutus beberapa pemuka kerajaan dan para punggawa untuk menemui sekaligus memohon maaf sebesar-besar kepada Brahmana. Lewat utusannya pula, Raja Dalem Waturengong atas nama seluruh rakyatnya mohon agar Brahmana Keling sudi mengembalikan keadaan Bali seperti semula.

Brahmana Keling yang arif kemudian menerima permintaan maaf itu serta menarik kembali kutuk pastu-nya. Keadaan pun kembali seperti sediakala, wabah pun berhenti. Berkat jasa Brahmana Keling mampu menciptakan kesejahteraan alam lingkungan yang lebih baik dari tahun ke tahun, hasil alam yang melimpah sebagai sarana dan prasana karya sehingga dapat dilaksanakan dengan sukses atau berhasil (sidhakarya) sesuai dengan harapan, maka Dalem Waturenggong menganugerahi Brahmana Keling dengan gelar (sebagai) Dalem Sidhakarya dengan disertai upacara pediksan sebagaimana mestinya.

Dr. Kadek Suartaya dalam bukunya yang berjudul Pentas Seni Ritus Bali (2007) menyebut, Dalem Waturenggong setelah peristiwa tersebut akhirnya memerintahkan kepada seluruh rakyat (umat Hindu) di Bali agar mulai saat itu melaksanakan upacara wajib nunas tirta Penyida Karya di Pasraman Dalem Sidhakarya (sekarang Pura Dalem Sidhakarya) supaya upacara atau karya yang dilakukan menjadi sidhakarya, tuntas atau sukses tanpa rintangan. [bbn/ FisipUnud/Mul]


Rabu, 13 Juni 2018 | 18:55 WITA


TAGS: Topeng Sidhakarya Wali



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: