Kasus Kredit Rp 200 M BPD Bali Muncul, Terkait Perebutan Kursi Direksi ?

Rabu, 06 Desember 2017 | 12:35 WITA

Kasus Kredit Rp 200 M BPD Bali Muncul, Terkait Perebutan Kursi Direksi ?

beritabalicom/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Publik saat ini dikejutkan dengan kasus dugaan tindak pidana korupsi pencairan kredit investasi di Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali senilai Rp 200 miliar. Menurut sumber terpercaya, kasus ini bisa muncul ke permukaan karena diduga terkait pertarungan perebutan kursi direksi di BPD Bali.
 
"Kenapa kasus ini bisa muncul, ini karena sedang ada pertarungan perebutan kursi direksi, sehingga data itu bisa sampai keluar. Sekarang ini kan sudah tidak ada direksi definitif, karena masih proses seleksi," ujar sumber terpercaya kepada Beritabali.com.
 
Sumber yang tidak mau disebut namanya ini menambahkan, sebelumnya ada 5 nama calon direksi, tetapi banyak yang ditolak Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
 
"Calonnya (Direksi) yang diusulkan itu ditolak merupakan usulan dari Badung dan Karangasem," imbuhnya.
 
Sumber menyatakan, persoalan pergantian direksi itu sudah pasti info A1 (terpercaya) karena saat ini memang tidak ada direksi definitif.
 
Sumber menambahkan, kasus kredit Rp 200 miliar ini bisa ditelusuri lagi oleh pihak berwenang, seperti ada berapa kredit senilai 200 M di BPD, atau kredit yang diatas 100 M.
 
"Berapa kredit untuk pengusaha Bali, berapa untuk pengusaha luar Bali, dan sebagainya. Ini menarik untuk ditelusuri soal keberpihakan Bank BPD Bali terhadap pengusaha Bali. Pihak berwenang juga bisa menelusuri siapa direksi saat kredit diberikan, orangnya siapa, bagaimana dulu proses penentuannya dan lain lainnya. Ini penting diketahui karena ini bank nya rakyat Bali,"ujarnya.
 
Terkait hal ini, Humas BPD Bali, A A Made Agung dalam keterangan persnya di Denpasar, Selasa (5/12), membantah telah terjadi pembobolan bank senilai ratusan miliar rupiah di BPD Bali. Yang terjadi adalah kredit macet. 
 
Terkait adanya kredit-kredit non lancar yang tengah berproses di  BPD Bali, berbagai upaya-upaya penyelesaian  tengah dilakukan seperti dengan penagihan, restrukturisasi kredit, penjualan agunan dibawah tangan, dan lelang agunan. 
 
"Terkait posisi kredit PT. KCPP, Khusus untuk kredit macet PT. KCPP tujuan kredit untuk pembangunan hotel, dimana saat ini hotel sudah beroperasi. Proses awal pengajuan kredit PT. KCPP dilakukan pada awal Agustus 2014 dan pencairan kredit bertahap, terakhir tanggal 23 Januari 2015. Pada saat ini, hotel tersebut sedang dalam pengurusan dan pemberesan oleh pihak kurator karena dalam posisi pailit sesuai Putusan Nomor 10/PKPU/2015/PN.NIAGA.SBY tanggal 15 Agustus 2016," ujar Agung.
 
Sedangkan untuk kredit PT. HBP disebutkan, proses awal permohonan kredit pada Januari 2012 dan pencairan kredit bertahap, terakhir tanggal 15 April 2013. Penyelesaian kredit telah dilakukan dengan dua kali lelang sehingga sisa pokok kredit menjadi sebesar Rp 29,8 Miliar dan saat ini sedang dilakukan proses untuk lelang berikutnya.
 
"Penyaluran kredit atas kedua debitur tersebut diatas, telah memenuhi prosedur internal Bank BPD Bali dan tidak ada pembobolan. Kami pastikan bahwa dana masyarakat aman di Bank BPD Bali," tandasnya.
 
Menurutnya, tingkat kesehatan Bank dalam predikat 2 (sehat) mencerminkan kondisi Bank secara umum sehat, sehingga dinilai mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya, tercermin dari penilaian faktor profil risiko, penerapan GCG, rentabilitas, dan permodalan yang secara umum baik. 
 
Posisi kredit sebesar Rp 16.302 Miliar dengan komposisi Lancar Rp 15.518 Miliar, dalam perhatian khusus Rp 359 Miliar, Kurang lancar Rp 66 Miliar, Diragukan Rp 55 Miliar, Macet Rp 304 Miliar.
 
"Apabila terdapat kelemahan, maka secara umum kelemahan tersebut kurang signifikan. Pasalnya merujuk pada predikat 2 (sehat) dan GCG selayaknya BPD secara performa tergolong bank dengan performa sehat dan GCG," tutup Agung.
 
Sementara terkait perkara dugaan tindak pidana korupsi pencairan kredit investasi di Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali senilai Rp 200 miliar terus bergulir, tim penyidik Pidsus Kejati Bali tengah menyiapkan ekspos. Tim penyidik sudah mengantongi sejumlah calon tersangka dalam perkara ini.
 
Ketua tim penyidik Pidsus Kejati Bali  Otto. S didampingi Kasipenkum Edwin Beslar menyebutkan, setidaknya ada lima calon tersangka dalam kasus ini yang berasal dari internal dan eksternal Bank BPD Bali.
 
Sebelumnya, Senator atau anggota DPD asal Bali, Gede Pasek Suardika, mendukung upaya pihak kejaksaan yang sedang membongkar kasus dugaan pembobolan Bank BPD Bali dengan nilai fantastis Rp 200 Miliar.
 
"Saya mendukung langkah Kejati untuk membongkar tuntas. Selamatkan uang Rakyat Bali,"tegas Pasek. [bbn/inv/psk]


Rabu, 06 Desember 2017 | 12:35 WITA


TAGS: bpd bali bank bobol 200 miliar korupsi kejatibali



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya:

 

HASIL SEMENTARA SIMULASI POLLING PEMILIHAN BAKAL CALON GUBERNUR BALI 2018
    • Dr. IGN Arya Wedakarna M Wedasteraputra Suyasa
    • Ni Putu Eka Wiryastuti, S.Sos
    • Dr.Ir. Wayan Koster, M.M.n.
    • I Gede Pasek Suardika, SH
    • Drs. Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga
    • Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, SE, M.Si
    • Drs. I Ketut Sudikerta
    • Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya S.IP
    • Total responden sampai saat ini: 1604