News

Sekolah SDN 1 Dajan Peken Bantah Wajibkan Siswa Les dan Bayar Uang Pungutan

 Minggu, 12 Agustus 2018, 05:25 WITA

beritabali.com/ist

IKUTI BERITABALI.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Beritabali.com, Tabanan. 
Beritabali.com,Tabanan. Kepala Sekolah SDN 1 Dajan Peken Tabanan membantah pihak sekolah mewajibkan siswanya mengikuti les dan membayar uang pungutan Rp350 ribu bagi siswa baru seperti yang dikeluhkan orang tua siswa.
 
[pilihan-redaksi]
Kepala Sekolah SDN 1 Dajan Peken, I Made Marya S.PD.Sd. mengatakan untuk program les dan adanya uang pungutan Rp 350 ribu sifatnya hanya sukarela, serta sudah diputuskan bersama oleh pihak komite. Ia menjelaskan, sejak tahun lalu pihaknya memberlakukan les di sekolah dengan memberikan dana transportasi kepada guru, tetapi memasuki tahun 2018 adanya aturan yang mengatakan dana Bos tidak memperbolehkan untuk membiayai karena aturan baru itulah pihaknya kemudian melakukan rapat dengan dewan guru untuk membahas les tersebut. 
 
Dari hasil kesepakatan para guru, selanjutnya pihak sekolah meneruskannya ke komite sekolah untuk melakukan rapat di bulan Juli dan hasilnya disetujui oleh komite. Setelah itu keluarlah surat edaran pernyataan yang isinya untuk mengijinkan anaknya melakukan les di sekolah.
 
"Kami melaksanakan les tersebut karena komite sudah memberikan ijin yang pelaksanaanya minimal 10 kali  dalam sebulan, artinya seminggu 3 kali pertemuan les setiap Senin, Selasa, Rabu," jelasnya Marya. 
 
Ia menegaskan pemberlakuan kebijakan les itu sementara tidak ada guru yang merasa mengeluh. Marya menambahkan dalam melakukan les tersebut pihak sekolah hanya memungut biaya sebesar Rp5000 per setiap kali pertemuan, jadi setiap bulannya orang tua siswa membayar Rp50.000. Progam les dibuat sekolah yaitu 10 kali pertemuan dalam sebulan dan selama 1 semester hanya 4 bulan saja yang akan dipakai. 
 
“Karena terbentur libur sekolah jadi selama semester hanya membayar 200 ribu saja. Dan sifatnya tidak memaksa harus les,” terangnya. 
 
Pelaksanaan les di sekolah juga atas dasar keinginan orang tua murid. “Kami kemudian berusaha untuk memfasilitasi, pasalnya les yang dilakukan di luar sekolah cukup mahal. Ia menambahkan hal ini sifatnya juga baru percobaan yang dimulai pada awal Agustus, apabila nanti terjadi keluhan maka pihak sekolah akan menghentikan kegiatan tersebut. 
 
"Kami tidak memaksa kalau siswa harus mengikuti les di sekolah, makanya kami membuat surat pernyataan kepada orang tua siswa yang sifatnya secara sukarela,” jelasnya. 
 
Saat itu pihaknya masih menunggu jam kepastian lesnya saja apakah dimulai pukul 13.00-15.00, dan program ini sudah direspon positif dari kelas 1 sampai kelas 6. 
 
Tidak hanya itu saja, ia juga menjelaskan tentang uang adanya pungutan uang sekolah sebesar Rp300.000, bahwa pungutan tersebut digunakan untuk kegiatan siswa itu sendiri, serta kebersihan dan keamanan sekolah. Pasalnya dana bos sendiri tidak bisa menanggungnya seperti halnya sanggar, cleaning service, satpam, serta guru. 
 
"Dari akumulasi kegiatan tersebut timbulah angka dan kami putuskan juga dengan pihak komite sekolah, sehingga muncul sumbangan sukarela sebesar Rp300.000," tandasnya.  
 
[pilihan-redaksi2]
Sumbangan sukarela itu menurut Marya bukanlah pemaksaan, kalau orang tua bayar Rp 100 ribu atau tidak membayar sama sekali pihaknya tidak akan menuntut karena sifatnya sukarela. Pertimbangan pihaknya bersama komite sekolah  mengeluarkan kebijaan itu juga karena uang BOS sebesar Rp600 Juta masih kurang untuk membiayai operasinal sekolah selama setahun.  
 
Dan program ini sebenarnya juga sudah berjalan di tahun sebelumnya. "Saya hanya menjalankan program dari kepala sekolah sebelumnya. Sebab saya baru menjabat di tahun 2015. Dan di tahun lalu dengan adanya guru pengabdi dan di tahun ini adanya aturan bahwa dana bos tidak memperbolehkan membayar guru pengabdi, akhirnya dana sukarela lah dibuat," pungkasnya. (bbn/nod/rob) 

Penulis : bbn/nod







Hasil Polling Calon Bupati Tabanan 2024

Polling Dimulai per 1 September 2022


Trending