News

Polisi Moral Iran dalam Sorotan Setelah Mahsa Amini Tewas

 Jumat, 23 September 2022, 04:21 WITA

bbn/Harpersbazaar.com/Polisi Moral Iran dalam Sorotan Setelah Mahsa Amini Tewas

IKUTI BERITABALI.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Beritabali.com, Dunia. 

Tewasnya perempuan Iran berusia 22 tahun, Mahsa Amini, setelah ditahan oleh polisi moral memicu protes dan kemarahan yang meluas. Demonstrasi berlangsung berhari-hari di seluruh penjuru negeri.

Para perempuan melepas atau membakar hijab mereka. Ada pula yang terang-terangan memotong rambut di depan umum. Yang lain melempar batu atau membakar kendaraan polisi.

Mereka memprotes beleid yang mengatur tata cara kaum perempuan berpakaian dan bagaimana aturan yang ketat ini ditegakkan.

Penegakan aturan tersebut diserahkan kepada unit polisi yang dikenal dengan Patroli Panduan atau Gasht-e Ershad. Unit ini lebih dikenal dengan sebutan 'polisi moral'. Mereka punya kewenangan menahan warga yang dianggap "berpakaian secara tidak pantas".



Berdasarkan peraturan di Iran, yang bersumber pada interpretasi hukum Islam, kaum perempuan diwajibkan menutup rambut dengan hijab dan mengenakan pakaian panjang-longgar untuk menutup lekuk tubuh mereka.

Amini diduga tidak menutup rambut secara sempurna dengan hijab sehingga sempat terlihat saat ditangkap di Ibu Kota Teheran pada 13 September 2022. Ia koma setelah jatuh pingsan di tahanan dan meninggal tiga hari kemudian di rumah sakit.

Polisi moral membantah bahwa anggota mereka memukul kepala Amini dengan tongkat atau membenturkan kepalanya ke mobil polisi.

Dalam wawancara yang jarang dilakukan, seorang anggota polisi moral Iran -- yang meminta identitasnya disembunyikan -- menuturkan pengalamannya kepada BBC.

"Mereka mengatakan tugas polisi moral adalah melindungi perempuan," ujarnya. "Karena jika perempuan tidak berpakaian secara pantas, laki-laki bisa berulah dan mencelakai mereka."

Ia mengatakan patroli polisi moral biasanya terdiri dari enam personel: empat laki-laki dan dua perempuan. Lokasi patroli adalah tempat-tempat di mana banyak pejalan kaki dan tempat-tempat orang berkumpul.

"Sebenarnya aneh. Kalau tugas kami memandu dan mengingatkan, mengapa harus ke tempat-tempat yang ramai? Kesannya, kami ditugaskan untuk 'memburu' sebanyak mungkin orang," katanya.

Ia mengatakan komandannya tidak senang jika jumlah orang yang dinyatakan melanggar aturan berpakaian hanya sedikit. Sang komandan akan mengatakan ia tidak becus bekerja hanya karena orang yang dinyatakan melanggar aturan pakaian jumlahnya sedikit.

Ia juga mengaku sangat sedih saat harus menangkap warga.

"Saya sering menangis ketika menahan orang-orang dan memaksa mereka masuk ke mobil [polisi]," katanya.



"Saya ingin mengatakan bahwa saya bukan bagian dari mereka. Sebagian besar dari kami adalah prajurit biasa yang menjalani kewajiban dinas militer. Saya sungguh merasa tidak enak."

Aturan pascarevolusi Islam 1979

Sebelum Shah Mohammad Reza Pahlavi yang pro-Barat digulingkan oleh Revolusi Islam pada 1979, keberadaan perempuan yang memakai rok mini dan tidak berkerudung adalah hal yang umum di Kota Teheran -- walau banyak pula perempuan Islam memakai hijab di Iran kala itu.


Halaman :



Tonton Juga :



Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan pengiklan. Wartawan Beritabali.com Network tidak terlibat dalam aktivitas jurnalisme artikel ini.