News

Napi Berontak Pada Kondisi Lapas Yang Bobrok

 Senin, 07 November 2016, 00:56 WITA

beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Beritabali.com, Badung. 

 Apa yang menjadi latar belakang kerusuhan Lapas Kerobokan, pada Selasa (21/2/2012) lalu? Disinyalir bahwa aksi kerusuhan itu tidak hanya masalah diskriminatif yang dilakukan pihak Lapas Kerobokan, tapi ada pada kasus lepasnya 3 pelaku penusukan napi oleh pihak KPLP pimpinan Anang Khuzaini. Benarkah demikian ?

Sumber beritabali.com mengungkapkan, tindakan diskriminatif yang dilakukan pihak Lapas Kerobokan sudah lama berlangsung. Ribuan napi disana merasa terjadi ada pengelompokan pengelompokan napi yang semestinya cepat diatasi oleh pihak Lapas Kerobokan. “Semacam ada geng geng-ngan di dalam Lapas, sebut saja begitu,” beber sumber, pada Kamis (23/2/2012).

Tindakan diskriminatif itu tak hanya bernuansa geng-geng-an saja, tapi sudah menjurus 'UUD' alias Ujung-Ujungnya Duit. Bagi kelompok napi yang memiliki uang banyak, kebutuhannya selama dalam tahanan terjamin 100 persen. “Bagi geng napi yang uangnya sedikit jangan harap bisa keluar berobat keluar Lapas. Tapi bagi geng napi yang uangnya banyak, mereka bisa keluar sekena hati. Bisa berobat dan keluar ke tempat hiburan malam atau menjenguk keluarga,” bisik sumber yang enggan disebut namanya itu.

Inilah yang memantik para napi dan mengeluhkan kinerja Lapas Kerobokan. Keluhan itu sepertinya sudah mencapai “ubun ubun di kepala” dan para napi mulai berontak. Puncak pemberontakan para napi terjadi pasca penusukan yang dilakukan tiga napi terhadap seorang napi di Lapas Kerobokan, pada Minggu (19/2/2012).

Seorang napi bernama Made Eriyasa ditusuk oleh tiga napi yakni Bashori, Dwi Wijayanto dan Eko Mardianto. Akibat penusukan itu, Made Eriyasa mengalami luka tusuk ditangan sepanjang 15 cm dan dirawat di RSUP Sanglah. Tiga napi tadi diamankan ke Polsek Kuta. Akibatnya napi yang pro terhadap Made Eryasa gerah dan tidak terima perlakuan tiga napi tersebut. Mereka mengamuk dan merusak kaca dan kantor Lapas Kerobokan.

Sehari kasus itu diredam, muncul kembali gejolak dari para napi yang pro Made Eryasa. Pasalnya mereka mendengar bahwa tiga napi Bashori, Dwi Wijayanto dan Eko Mardianto dikabarkan dilepas oleh KPLP yang dikomandoi Anang Khuzaini. Tiga napi itu dibawa pihak KPLP dari tahanan Polsek Kuta Utara dan dibawa ke rumah dinas untuk dilakukan pembinaan.

Kekesalan para napi kembali terusik setelah mengetahui barang bukti tiga napi tadi hilang mendadak. Inilah yang memantik kemarahan para napi dan akhirnya melakukan kerusuhan dan perusakan serta pembakaran Lapas Kerobokan. “Mereka tidak terima perlakukan KPLP karena menghilangkan barang bukti dan menahan tiga napi di rumah dinas KPLP. Ada kesan terjadi suap dalam masalah itu,” ungkap sumber lagi.

Tanpa dikomando, ratusan napi napi akhirnya mengamuk pada Selasa (21/2/2012) malam, dan membuat Lapas Kerobokan mencekam. Kerusuhan dari pukul 22.30 Wita hingga keesokan harinya itu, pada Rabu (22/2/2012) sekitar pukul 08.00 Wita, berakhir dengan penyerbuan aparat kepolisian dan TNI. Dari penyerbuan itu, dua napi mengalami luka tembak, satu diantaranya luka ringan dan seorang polisi terkena lemparan sepatu.

Tim gabungan Polri dan TNI berhasil mengamankan 30 pucuk senjata api laras panjang dari dalam Lapas Kerobokan dan ribuan butir peluru tajam. Kalapas Kerobokan Bowo Nariwono saat dihubungi wartawan enggan berkomentar banyak. Bowo mengaku sibuk dan terkesan tidak mau diganggu. “Waduh, saya masih sibuk, nanti saja,” ucapnya sambil menutup gagang via telpon, pada Kamis (23/2/2012).

Penulis : bbn/psk

Editor : Tantri



Berita Beritabali.com di WhatsApp Anda
Ikuti kami




Tonton Juga :





Hasil Polling Calon Bupati Badung 2024

Polling Dimulai per 1 September 2022


Trending