News

Harga Babi Naik, Warga Thailand Beralih ke Daging Buaya

 Rabu, 26 Januari 2022, 14:10 WITA

bbn/sains.sindonews.com/Harga Babi Naik, Warga Thailand Beralih ke Daging Buaya

IKUTI BERITABALI.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Beritabali.com, Dunia. 

Demam babi Afrika yang melanda Thailand menyebabkan menurunnya pasokan daging Babi. Hal ini akhirnya menyababkan permintaan daging buaya dilaporkan melonjak di Thailand karena harga daging babi terus naik. 

Kekurangan daging babi yang menjadi bagian penting dari makanan warga Thailand ini pun diperkirakan masih akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan. 

Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha pekan lalu memerintahkan badan-badan pemerintah untuk segera mengatasi masalah pasokan makanan dan lonjakan harga. Ini sangat penting baginya menjelang pemilihan umum yang akan diadakan pada Maret 2023. 



 

"Banyak penjual makanan dan restoran datang kepada saya untuk meminta daging buaya untuk dibeli," kata Wichai Roongtaweechai, sebagaimana diberitakan Nikkei Asia, Jumat (21/1/2022). 

Pria berusia 65 tahun ini mengoperasikan peternakan buaya seluas 3 hektar di provinsi Nakhon Pathom, 60 km sebelah barat Bangkok. Kapasitas peternakan itu mampu menampung 10.000 buaya. 

Sampai saat ini, sebagian besar peternakan menjual kulit buaya ke industri fesyen dan dagingnya dijual atau diekspor ke restoran, termasuk restoran Cina, yang menyajikan daging eksotis. 

Namun, dalam beberapa minggu terakhir, penjualan daging buaya milik Wichai melonjak hingga lebih dari 100 kg per hari, naik dari hanya sekitar 20 kg sehari. Dia mengaku bisa mendapatkan sekitar 50 kg daging dari setiap buaya. 

Pelanggan baru muncul di peternakannya hampir setiap hari. Wichai menceritakan ada seorang pemilik toko mi dari Bangkok telah membeli daging buaya darinya untuk kali pertama pada Senin (17/1/2022). Penjual mi tersebut membeli daging buaya sebagai alternatif karena daging babi harganya naik. 

Menurut Departemen Perikanan Kementerian Pertanian Thailand, 1.150 orang di negara itu memiliki peternakan buaya atau terlibat dalam bisnis perdagangan buaya. Secara total, mereka memelihara sekitar 1,2 juta buaya per tahun, di mana 60 persen di antaranya diproses untuk ekspor daging (banyak ke China) senilai sekitar 6 miliar baht atau 182 juta dollar AS. Sisanya 40 persen buaya untuk bisnis kulit. 


Halaman :