Michiko Susuki, seorang karyawati sebuah perusahaan asuransi di Distrik Fukuoka-Jepang. Setiap hari, gadis lincah dengan rambut sebahu ini, selalu ke kantor dengan Sinkansen sebuah Kereta Api Super Capat yang menjadi faforit dan kebanggaan masyarajat negeri Sakura-Jepang. Dia berangkat dari rumah untuk bekerja sekitar Pukul 06.00 pagi hari, waktu setempat, dan pulang ketika Matahari sudah jauh condong ke barat hingga menyentuh kaki langit.
Seperti kebanyakan remaja Jepang dengan tampilan Harajuku-nya, Miciko tergolong gadis yang lincah. Dia cerdas, dan tentu juga seorang pekerja yang serius. Seperti ceritanya, bahwa hampir 24 jam dalam sehari, dia menjadi pekerja, dan bekerja,. Tidak ubahnya Robot-Robot Bernyawa. Dan irama hidup seperti itulah yang dia lakoni hingga kini berusia 21 tahun. Sebuah hiutungan usia yang tergolong dewasa, menurut tradisi masyarakat Jepang.
Lantas apakah yang menarik dari Gadis Sakura yang bernama Miciko Susuki itu ?. Tentu selain wajahnya yang cantik mirip wajah Tokoh Osin dalam drama seri televisi berlatar prilaku dan tradisi masyarakat Jepang itu?.
Seperti remaja Jepang kebanyakan, Miciko juga seorang pembaca karya sastra yang hebat. Baginya, tidak ada hari tanpa membaca karya sastra (novel-pen). Lalu apanyakah yang menarik dari seorang remaja putri yang gila membaca karya sastra itu ?.
"Saya harus membaca karya sastra, untuk menjaga rasa kemanusiaan saya. Karena sebagai manusia, hampir 24 jam saya menjadi robot yang hanya tahu bekerja dan bekerja", demikian alasan Miciko ketika dilontarkan sebuah tanya, kenapa dia membaca karya sastra.
Humanis !
Alasan yang menyatakan hubungan kualitas rasa kemanusiaan dengan membaca karya sastra yang dilontarkan oleh Miciko tentu akan menjadi sesuatu yang cukup menarik untuk didiskusikan. Apalagi bagi pergaulan negara-bangsa seperti Indonesia yang menampatkan rasa kemanusiaan sebagai salah satu tetirah atas prilaku berbangsanya. Sehingga secara tek maupun kontektualitas, lontaran yang disampaikan oleh Miciko itu menjadi sebuah pekerjaan rumah dan pelajaran yang harus segera diselesaiikan. Terutama didalam kita menjaga keadaban dari sebuah bangunan peradaban negara-bangsa yang bernama Indonesia.
Bukankah didalam keseharian demikian sering kita mendengarkan keluh kesah masyarakat, baik kaum elit maupun masyarakat yang tergolong kelas bawah atau para penghuni wilayah akar rumput, yang menyatakan bahwa rasa kemanusiaan kita sebagai sebuah bangunan peradaban negara-bangsa kian hari terasa semakin menipis, bahkan mulai terasa, samar-samar menjadi hilang tertiup angin zaman hingga tak berbekas.
Semakin menipis, atau merosotnya kualitas kemanusiaan kita sebagai sebuah komunitas masyarakat, jelas tidaklah berdiri sendiri, atau semata-mata disebabkan oleh ketatnya prilaku kerja dan pekerja di Indonesia, seperti apa yang terjad di Negeri Matahari Terbit- Jepang.. Tetapi menipisnya rasa kemanusiaan di Indonesia, lebih disebabkan oleh gempuran demi gempuran yang berasal dari luar, baik pada demensi sosial, budaya, ekonomi, politik, bahkan juga dari sisi prilaku ketauladanan para elitnya. Atau secara klasik sering diungkapkan, bahwa menipisnya sikap dan rasa kemanusiaan kita sebagai sebuah komunitas negara-bangsa, lebih disebabkan oleh apa yang disebut sebagai Globalisasi. Dan aktor utama dari globalisasi itu tidak boleh tidak adalah media.
Seperti sering diungkapkan oleh para cerdk pandai didalam berbagai kesempatan, maka medialah yang paling bertanggung jawa atas menipisnya rasa kemanusiaan kita sebagai komunitas negara-bangsa. Karena media, utamanya media televisi dan kemudian media maya (internet-pen) dianggap memiliki daya dobrak provokasi yang demikian kuat, didalam menyuntikkan berbagai paham, yang berpotensi untuk melemahkan rasa kemanusiaan kita sebagai warga negara.
Kambing Hitam
Tudingan dan tuduhan bahwa globalisasi dan media sebagai biang kerok atas menipisnya rasa kemanusiaan kita sebagai sebuah komunitas negara-bangsa jelas merupakan wajah lain dari ketidak berdayaan negara didalam melindungi dan memproteksi rakyatnya. Hal ini dapat kita rasakan dari spirit atas berbagai regulasi peraturan perundang-undangan yang diterbitkan pemerintah, yang berhuungan dengan dunia penyiaran dan media terasa benar lebih memiliki keberpihakan kepada para pemilik modal besar. Atau kaum kapitalistis.
Disadari atau tidak, didalam kita membangun keadaban bangsa ini, maka musuh bersama kita adalagh kaum kapitalis, dan neo kapitalistis yang harus diakui hingga kini masih mencengkeram kita sebagai komunitas negara-bangsa, yang memiliki daya tawar demikian besar, bahkan mampu melumpuhkan, bahkan meniadakan peran negara.
Tetapi dari pada sibuk mencari Kambing Hitam atas merosotnya rasa kemanusiaan diantara kita yang juga ditandai dengan semakin rendahnya rasa solidaritas sosial kita sebagai sesama anak bangsa, maka ada baiknya therapi yang ditawarkan Miciko coba kita terjemahkan. Yakni membaca karya sastra sebagai usaha didalam membangun harmoni hidup dan rasa kemanusiaan kita.