Ketika di atas kapal penyeberangan antara Tanjungpinang dan Batam, saya kebetulan berjumpa teman lama yang sekarang sudah bekerja di salah satu stasiun televisi jakarta (sebagai contributor) . Dia menyapa sopan: "Apa kabar mas?". Saya jawab "baik-baik saja". Tak lama dia bertanya lagi, "masih menulis?".. saya pun jawab merendah, Ya,.. beginilah, saya pun tak pernah tahu kapan akan berhenti menulis. Cuma itu keahlian saya sejak 18 tahun silam.
Si teman pun hanya mengangguk, seperti kehabisan pertanyaan. "Sekarang banyak sekali wartawan kutu loncat ya?" katanya tiba-tiba. Dan saya pun tetegun. Otak terasa panas. Dik, hati-hati dengan kalimat seperti itu, bisa menyinggung perasaan rekan-rekan yang memang mengalami nasib seperti itu. Terutama mereka-mereka yang bekerja di perusahaan surat kabar dengan modal pas-pasan, Mendengar itu, si teman langsung minta maaf. "Sorry mas, cuma guyon," tak lama kemudian ia menghenyakkan tubuhnya ke sandaran kursi lalu tidur.
Saya pandangi wajahnya sambil menoleh. Teringat saya ketika "masnusia" yang satu ini merengek-rengek minta tolong tulisannya diperbaiki, sewaktu masih sama-sama bekerja di sebuah harian di Pekanbaru. Teringat saya, ketika tulisannya terpaksa saya bongkar habis karena tak jelas mana kepala mana ekornya.
Tapi itulah hanya sekelumit sejarah masa lalu, betapa etika dan moral ternyata sangat penting dibekalkan kepada seorang yang yang baru menyandang tugas sebagai jurnalis. Tapi fenomena ini menjadi tugas siapa? Pertanyaan itu mendadak melingkar-lingkar di benak saya. Tugas perusahaan media atau tugas organisasi pers. Agak sulit saat itu saya memikirkan benang merahnya.
Namun yang jelas media massa dan organisasi pers, agaknya wajar mengkaji kembali semua fenomena yang sudah terbentuk seperti ini. Artinya penekanan pembelajaran tidak lagi diarahkan agar wartawan dapat trampil menulis, melaporkan, serta menguasai seluruh kaedah yang berlaku. Terbukti bahwa, "arahan" yang ansih seperti itu justru tak jarang melahirkan figur - figur jurnalis yang "kerap" menepuk dada, sombong dan merasa pintar.
Kita tentu harus mengakui, di dunia jurnalis saat ini telah tercipta kotak-kotak, kelompok-kelompok, bahkan eksklusifisme group-group tertentu. Dan ini juga secara tak langsung didukung oleh para pebisnis media yang kapitalis. Wajar jika ada kelompok wartawan harian, kelompok mingguan, kelompok bulanan, kelompok elektronik dan banyak lagi kelompok antah berantah lainnya, yang masing-masing kelompok cenderung saling cemooh dan saling acuh tak acuh.
Ini fakta empiris yang tak terbantahkan, dan terjadi hampir di seluruh daerah, termasuk di ibukota sendiri. Padahal, hakikinya wartawan adalah "jembatan" saja bagi masyarakat. Tak ada yang perlu diangkuhkan, disombongkan apalagi sampai dieksklusifkan. Kasarnya, wartawan dimanapun bekerja, dia sama-sama mencari nafkah untuk diri sendiri (bujangan) atau untuk kebutuhan makan keluarga.
Sejatinya yang perlu kita pahami adalah bagaimana status kita sebagai "jembatan" itu, bisa eksis digunakan untuk mobilitas seluruh rakyat dari berbagai tingkatan dan jabatan serta untuk menegakkan keadilan dan hak azazi manusia. Artinya wartawan bukan pula jembatan bagi kelompok atau group-group tertentu dengan berbagai kepentingannya.
Pemahaman ini agaknya perlu disosialisasikan. Dan tentu saja menjadi tanggungjawab perusahaan pers atau organsasi pers, karena sama-sama menjadi wadah bagi wartawan dan penulis, agar selalu berorientasi kepada masyarakat dan kepada masa depan rakyat yang nyatanya sampai sekarang masih menderita.
Mereka tidak hanya harus berketrampilan menulis dan melapor serta menguasai kaedahnya, tetapi juga wajar mempunyai etika, moralitas yang baik serta memiliki kemampuan berfikir secara kritis terhadap lingkungan rakyat di sekitarnya.Negara kini dan pada masa depan memerlukan pelaku media yang berilmu dan multidiscipline, bukan sekadar berketrampilan membuat berita menguasai lapangan, banyak kolega lalu mencibir rekannya yang tak senasib. Isu alam sekitar atau kasus-kasus korupsi sejatinya tidak lagi dilaporkan menurut kaedah lama, yaitu kaedah what,who, where, when dan how. Masalah kemiskinan, pekat tidak hanya disiarkan sebagai berita semata-mata. Sebab problema ini adalah dampak dari krisis multidimensi.
Dan yang paling penting waratwan juga perlu sensitivitas, mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi, compassionate , dan rendah rendah diri. Silahkan gunakan matamu, kepalamu, telingamu, malah mulutmu, tetapi paling penting gunakan hatimu. Jangan mencerca temanmu Tanpa rasa sensitive, rendah diri, rasa kemanusiaan dan compassion, wartawan itu hanya mampu menulis, dan kemudian menjadi ego serta selalu merasa lebih. Padahal, sekali lagi wartawan hanya "jembatan" yang satu saat rapuh karena terlindas zaman.