Kota hi-tek seperti Silicon Valley kini telah tumbuh di berbagai belahan dunia. Bahkan di Asia seperti Singapore, Malaysia, India berlomba-lomba menciptakan kota tersebut. Kota-kota tersebut memiliki suatu kesamaan ciri yaitu, kerja keras, semangat enterpreneur yang tinggi, jalinan informasi yang kuat serta sistem pendanaan yang mendorong pertumbuhan perusahaan baru. Jadi bukan saja dengan cara penyediaan fasilitas (misal gedung, jaringan Internet) maka akan dapat langsung tercipta situasi tersebut. Banyak upaya cybercity di Indonesia yang kurang berhasil, hanya karena bertumpu poda konsep menjual lahan perkantoran saja.
Bila kita melihat pra-syarat yang ada dengan kota-kota tersebut, dan kenyataan yang ada di Bali, maka judul tulisan saya ini terkesan terlalu optimistis dan bahkan bombastis. Tapi tulisan ini bukan berkeinginan mengumbar utopia tetapi mencoba menawarkan suatu arah perkembangan yang mungkin sekali dicapai oleh Bali yang telah terkenal dengan industri pariwisatanya. Industri pariwisata di Bali bukan saja tumbuh berkembang hanya karena alamnya saja, tetapi juga diakselerasi oleh kreatifitas lokal yang berlandaskan nilai-nilai tradisional dan komunal yang begitu kuat. Kekuatan kreatifitas ini yang sebetulnya bisa digunakan sebagai modal dasar arah perkembangan industri TI yang bisa dikembangkan di Bali.
Bayangkan kalau industri kreatifitas di bidang TI dibangun di Bali. Raw material itu sudah ada di alam Bali. Atmosfir kreatifitas telah terjaga dan terbangun di Bali. Akses ke dunia internasional telah ada di Bali. Maka Bali memiliki kemungkinan lebih besar untuk menjadi lebih dikenal ketimbang daerah lain di Indonesia yang memiliki keinginan sama. Industri kreatifitas ICT di Bali ini bisa mencakup berbagai bidang misal disain audio, visual hingga multimedia atau bahkan hypermedia. Bila di negara tertentu, industri game telah menjadi industri besar yang menyerap banyak tenaga kerja, baik programmer, pendisain grafis hingga penulis skenario, di Indonesia belumlah terbentuk seperti itu.
Nama besar dunia TI seperti Bill Gates, Steve Jobs, Richard Stallman pernah dan tidak takut mengunjungi Bali, walau untuk tujuan liburan. Berbeda kalau kita ingin mengajak mereka mengunjungi Jakarta atau kota lain. Maka dengan modal ketenaran Bali sebagai tujuan wisata, maka dapat dimanfaatkan sebagai etalase industri TI di Indonesia. Bayangkan bila para turis mancanegara (yang mungkin juga di antara mereka bisnisman bidang TI di negaranya), ketika berlibur, dan melihat suatu usaha produk kreatif bidang TI yang sangat khas, maka kemungkinan produk itu ditoleh akan lebih besar di Bali ketimbang daerah lain. Bisa saja dari ketertarikan pada saat liburan ini, dikemudian hari menjadi bisnis serius. Apalagi banyak nilai-nilai tradisional, baik motif, cerita ataupun idiom-idiom yang dapat digali menjadi sumber produk kreatif.
Ada satu modal besar bagi Bali yang sulit didapatkan di daerah lain bahkan di Jakarta yaitu, Bali memiliki image yang lebih baik dari daerah manapun di Indonesia. Orang di luar negeri tidak takut untuk datang mengunjungi Bali ketika ada suatu event. Ini yang saya dapatkan ketika terlibat dalam penyelenggaraan The 4th IEEE International Conference on Signal Image Technology and Internet Based System (SITIS) 2008 di hotel Dynasty - Kuta Bali. Dari awal pengenalan event ini, para peneliti tingkat dunia baik yang berasal dari kampus ataupun industri merasa tertarik dan tidak segan untuk mengikuti acara di Bali ini. Berbeda ketika kita menawari hal itu di Jakarta atau daerah lain di Indonesia. Sehingga sering ada joke menyatakan Bali itu bukan Indonesia, karena kontrasnya hal ini.
Jadi pada dasarnya Bali telah memiliki modal untuk masuk ke jaringan pasar dunia. Cocok untuk etalase produk TI Indonesia sehingga dapat diperkenalkan kepada dunia internasional. Bayangkan bila kita berkehendak membuat pameran komputer se Asia, maka orang akan lebih memilih datang mengunjungi Bali ketimbang Jakarta. Jadi Bali sangatlah potensial sebagai tempat penyelenggara pameran seperti CeBIT di Hannover, di masa depan. Pameran seperti ini sangat efektif untuk membuka peluang kerja sama, pasar di bidang TI.
Sayangnya potensi-potensi ini belum dimanfaatkan oleh pihak di Bali. Dunia industri TI masih dianggap jauh dari core bussiness Bali yang kental dan kuat di bidang pariwisata. Tetapi kalau kita lihat kenyataan sekarang ini, dunia TI itu sangatlah dekat dengan dunia pariwisata, baik sebagai sistem pendukung (misal utk sistem booking, sistem informasi, sistem pemasaran) ataupun juga untuk dalam bentukan pariwisata TI, misal CeBIT di Hannover kini menjadi suatu tujuan wisata, begitu juga Game Convention di Leipzig). Jadi mungkin sudah saatnya masyarakat di Bali dibangunkan dari tidurnya bahwa industri pariwisata juga terkait dengan industri lainnya.
Ada beberapa hal yang mungkin perlu dipertimbangkan masyarakat termasuk Pemerintah Daerah Bali, bila ingin menjadikan Bali sebagai etalase industri TI di Indonesia. Misal :
1. Memperbanyak dan mendukung event seperti konferensi Internasional di Bali, atau menyelenggarakan pameran bidang TI di Bali (misal seperti event CeBIT, pameran komputer terbesar di Hannover Jerman). Bali sudah mulai dikenal sebagai tempat penyelenggaan acara dunia seperti konferensi dan lain sebagainya. Sehingga infrastruktur penyelenggaraan sudah ada, hanya mungkin perlu difikirkan lokasi yang baik untuk pamerannya.
2. Mendorong terbentuknya lembaga pelatihan/pendidikan di bidang ICT di Bali. Dengan cara ini penyediaan SDM bidang TI dapat tercapai. Sehingga ketika mulai ada ketertarikan orang terhadap produk TI di Bali, sudah tersedia Sumber Daya Manusia yang memadai. Sayagnya di Bali hingga saat ini masih sangatlah minim kampus yang memiliki jurusan TI, ataupun lembaga pelatihan yang memberikan pelatihan di bidang TI.
3. Mendorong tersedianya fasilitas dan insentif sehingga mendorong terbentuknya enterpreneur di bidang TI. Fasilitas itu termasuk jaringan komunikasi (misal Internet) serta kemungkinan permodalan bagi para enterpreneur. Sebab rata-rata enterpreneur di bidang TI adalah mereka yang masih muda-muda, yang bermodalkan idea tapi masih sangat lemah dalam akses kepada para pemiliki modal. Fasilitas ini dapat juga berbentuk misal dalam fasilitas perkantoran di mana pada perkantoran tersebut perusahaan-perusahaan TI dapat menyewanya.
4. Menjalin kerja sama dengan pihak asing untuk memanfaatkan layanan terkait di bidang TI di Bali. Tentu saja bidang asing dalam hal ini bukan saja diharapkan melihat Bali sebagai sasaran pasar, tetapi lebih kepada kerja sama kepada pihak yang membuka kerja sama dari asing. Kerja sama ini dapat berupe peningkatan kualitas SDM ataupun dalam hal pemasaran, dan penerimaan pekerjaan. Misal dalam bentuk outsourcing yang seperti dilakukan di India.
5. Aktif melakukan promosi di Luar Negeri tentang keberadaan industri TI di Bali. Misal dapat dilakukan dengan memiliki stand di pamerah CeBIT. Banyak negara seperti Panama, Bulgaria aktif memasyaratkan layanan yang ada di negara mereka di CeBIT. Bila Bali selalu aktif di ITB - Berlin, mengapa tidak mencoba aktif juga di CeBIT ? Mungkin dengan memamerkan fasilitas ataupun produk TI yang di Bali di antara puluhan ribu pengunjung CeBIT menjadi tertarik untuk bekerja sama.
6. Mendorong kerja sama antara lembaga pendidikan - lembaga penelitian di bidang TI - industri serta pemilik modal sehingga dapat terciptanya suasana yang kondusif bagi terbentuk enterpreneur di bidang TI.
Mudah-mudahan dengan modal yang telah ada baik di sisi infrastruktur pariwisata ataupun alam kretitifas Bali yang sangat unik, tidak tertutup kemungkinan di masa depan Bali menjadi etalase dunia TI Indonesia di mata dunia internasional. Industri TI ini tidak berseberangan dengan industri pariwisata, bahkan saling mendukung. Jadi sudah saatnya Bali dikembangkan ke arah sana, tanpa perlu bersaingan dengan industri pariwisata yang selama ini telah begitu besar kontribusinya.
Penulis : I Made Wiryana
Menamatkan S1 di jurusan Fisika FMIPA Universitas Indonesia pada bidang instrumentasi dan fisika terapan. Dengan beasiswa dari STMIK Gunadarma juga menamatkan S1 Teknik Informatika di STMIK Gunadarma. Melanjutkan studi S2 di Computer Science Department Edith Cowan University - Perth dengan beasiswa ADCSS dan STMIK Gunadarma pada bidang fuzzy system dan artificial neural network untuk pengolahan suara. Menangani perancangan dan implementasi jaringan Internet di Universitas Gunadarma dengan memanfaatkan sistem Open Source sebagai basisnya. Pernah mewakili IPKIN dalam kelompok kerja Standardisasi Profesi TI untuk Asia Pasifik (SEARCC). Saat ini Made Wiryana juga aktif sebagai Konsultan teknis situs resmi PresidenSBY.info
Informasi lebih lanjut tentang penulis bisa melalui Email: mwiryana@gmail.com atau mwiryana@staff.gunadarma.ac.id