Beritabali.com, Buleleng. Nama besar Pelabuhan Buleleng nyaris tak berbekas. Pusat jajan serba ada menggantikan tempat yang dulu digunakan sebagai dermaga terbesar di Pulau Bali itu hingga tahun 1950-an. Bekas kantor kepabeanan pun dibiarkan telantar.
Di sisi timur berdiri deretan bangunan tua yang kini dijadikan gudang bahan bangunan. Gudang-gudang itu dulunya adalah tempat pengurusan administrasi perjalanan, termasuk tempat pembelian tiket kapal.
Pelabuhan Buleleng di Kabupaten Singaraja sebagai pintu utama Bali sejak masa pendudukan Belanda hingga menjadi ibu kota Provinsi Sunda Kecil, periode tahun 1950-1958, memang sudah cerita usang. Cerita itu hanya ”terkunci rapat” di sejumlah literatur serta mulut- mulut pelaku sejarah yang usianya menjelang senja.
Buku Republik Indonesia Provinsi Sunda Ketjil (1953) memberi gambaran kejayaan Pelabuhan Buleleng. Di zaman pendudukan Belanda, pelabuhan itu dipakai untuk bongkar muat barang dan juga kapal pesiar asing yang membawa wisatawan menikmati Pulau Dewata. Saat itulah pamor pantai utara mengalami zaman keemasan.
Kondisi itu tetap bertahan saat Singaraja dipilih sebagai ibu kota Provinsi Sunda Kecil. Sebagai salah satu dari 10 provinsi di Indonesia, yang ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No 21/1950, Sunda Kecil meliputi Bali, Lombok, Bima, Flores, Timor (barat) dan Sumba, serta pulau kecil di sekitarnya.
Pelabuhan Buleleng kala itu adalah pelabuhan paling penting di Bali. Melalui Pelabuhan Buleleng, sebagian besar dari 750 ekor sapi dan atau 4.000 ekor babi, serta hasil perkebunan, seperti kopi dan cengkeh asal Bali, diekspor ke Singapura.
Di pelabuhan itu pula, berlabuh kapal-kapal besar yang menghubungkan Bali dengan kota-kota pelabuhan, seperti Surabaya dan Makassar, serta kota-kota di Sunda Kecil, seperti Ampenan dan Kupang.
”Setiap akhir pekan, suasana Pelabuhan Buleleng dibumbui suasana sentimentil. Ada sorak-sorai dan peluk cium warga yang sanak saudaranya baru datang. Namun, ada juga pemudi yang menangis karena ditinggal pacar keluar pulau,” kata Gde Darna (78), Sekretaris Legiun Veteran RI Singaraja.
Kehidupan ekonomi dan sosial Buleleng ketika itu begitu hidup. Bank Perniagaan Indonesia di pusat kota Singaraja melayani simpanan dan pinjaman masyarakat. Para bekas pejuang diberi hak istimewa menjalani profesi baru sebagai pedagang, eksportir, atau menjadi pegawai pemerintah. Sejumlah sekolah hingga tingkat SMA didirikan.
Pindah ke selatan
Pengaruh pesisir utara Bali memudar saat Sunda Kecil berdasarkan Undang-Undang (UU) No 64/1958 dimekarkan menjadi tiga provinsi, yaitu Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 52/2/36-136 Tahun 1960 yang menetapkan ibu kota Bali dipindahkan dari Singaraja ke Denpasar membuat Buleleng kehilangan urat nadi perekonomiannya.
Pelabuhan Buleleng pun tidak difungsikan lagi dan mati, khususnya sejak Bandara Ngurah Rai melayani penerbangan internasional pada tahun 1959. Kiblat Bali dari utara ke selatan benar-benar ”menyingkirkan” peran dan pamor Buleleng.
Pelabuhan Celukan Bawang yang dibangun di Gerokgak, 50 kilometer barat Singaraja 30 tahun lalu dan menjadi pusat bongkar muat angkutan barang dari pulau lain, tetap tidak maksimal mengembangkan perekonomian warga Buleleng. (litbang bb.com/bulelengkab.go.id/berbagai sumber)
meanarik sekali keadaan pelabuhan buleleng. jika pun sekarang ini kapal kapal sudah tidak berlabuh lagi...jika dikelola kembali coba jadikan pelabuhan buleleng Sentra souvenir/sentra seni Buleleng. benar memang pemandangan malam hari di pelabuhan mengasikkan bagi yang bercinta peluk cium kakak kikikk... berdua dikeremangan malam. Lampu penerang semestinya dapat dipasang dipinggiran pinggiran..., kebersihannya disiang hari...kurang nyaman.alias jorok. semoga pelabuhan ini menjadi indah bersih dan nyaman. jadikan persinggahan perjalanan wisata. pantai di tengah kota. apalagi jembatan belandeee lingkungannya kumuh jorok... nahhh...untung saja adanya klenteng...yang tata lampunya cukup. akan menambah daya tarik lagi bagi wisata buleleng. yahhhhhhhhh mau bilang apa..APBD DEPISIT...Jalan Dek Dek....Sabar...sabar sabarrrrrrrrrrrr. kita tunggu Kepemimpinan baru Buleleng 2012.
made Juniadi(2011-08-20)
pelabuhan buleleng merupakan salah satu simbul kejayaan buleleng masa lalu dan juga simbul korban kebijakan masa lalu, namun masyarakat buleleng jangan pasrah karena pelabuhan buleleng kini masih menjadi potensi yang dapat bermanfaat bagi buleleng. pemda buleleng dengan keterbatasan anggaran secara bertahap telah menata kembali keberadaan pelabuhan buleleng termasuk pelestarian bangunan heritage yg ada. sekarang ini penataannya belum optimal namun sudah dapat dimanfaatkan terutama sebagai obyek wisata lokal dan kuliner. tentunya pemerintah kabupaten sangat mengharap dukungan masyarakat secara aktif baik melalui masukan ide yg konstruktif maupun menjaga kelestariannya.
Gama(2011-08-15)
Jangan Biarkan Aset Bersejarah Hilang Dimakan Usia
suryadharmadi(2011-11-14)
ini wartawannya gimana sih? mana ada kabupaten Singaraja. sekolah dulu cuy
A A Ngurah Sentanu(2012-04-27)
Potensi Pelabuhan Buleleng luar biasa. Artinya punya kekhasan terutama dari aspek sejarah yang pernah di tahun 1800-an menjadi "rebutan" bangsa2 Eropa - dan potensi selanjutnya. Kalau saja semua potensi2 diangakat bisa sebagai object wisata yang menarik.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.